Rabu, 13 Agustus 2014

Taste For Love (by ohdo)





Mia baru saja sampai di sekolah. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Suasana kelas terlihat sangat ramai. Mia melangkah menuju tempat duduknya. Sambil menaruh tasnya ia memperhatikan sebuah tempat yang dikerumuni oleh banyak murid perempuan. Terlihat jelas seorang murid laki-laki berkulit putih susu menempati tempat itu. Sepertinya baru pertama kali ia melihat murid itu, pikir Mia. Rasa penasaran Mia muncul. Mia menghampiri tempat duduk murid laki-laki itu. Mia berniat untuk melihat wajah murid itu, namun tidak berhasil. Murid-murid perempuan yang mengerumuninya sangat banyak, bahkan murid dari kelas lain-pun ada di dalam kerumunan itu.
“Ada apa sih? Siapa sih dia? Kayaknya aku baru pertama kali liat dia.” Tanya Mia dalam hatinya.
Mia mencoba untuk melihat wajah murid laki-laki itu dengan sedikit menjinjitkan kakinya. Matanya terbelalak saat mendapatkan sesosok laki-laki yang dilihatnya. Kulitnya sangat putih seperti susu, matanya sipit dan terdapat kantung pada matanya, warna bibirnya sangat merah alami, hidungnya juga mancung. Sangat sempurna di mata Mia hingga ia tidak bisa berhenti menatapnya.
            Tiba-tiba saja Nana  menepuk pundak Mia. Mia terlihat sangat terkejut.
“Kamu ngagetin aku, Na!” kata Mia sedikit menghela nafasnya.
“Maaf, Mi. abisnya kamu bengong aja sih. Liatin anak baru ya??” Tanya Nana sambil menyipitkan matanya.
“Jadi dia anak baru? Kok cakep sih? Kayak orang korea tau! Dia blasteran ya, Na??” Tanya Mia penasaran.
“Dia blasteran korea amerika, Mi. Gak tau juga sih, aku denger-denger juga ibunya asal korea dan bapaknya asal Indonesia loh, asli dari Depok.” Jawab Nana.
“Terus amerikanya nurun dari siapa dong?” Tanya Mia lagi.
“Mungkin neneknya. Mending kamu tanya sendiri deh kalo mau tau banyak tentang dirinya.” Jelas Nana.
“Gak ah!” jawab Mia dan langsung berlalu dari sana.
“Bener nih???!!” Teriak Nana pada Mia yang jaraknya sekarang sudah semakin jauh. Dari kejauhan terlihat Mia yang menjawab dengan anggukan kepala.
***
            Bel masuk sudah berbunyi. Semua murid sudah harus berada di dalam kelasnya masing-masing. Tepat di kelas Mia, terlihat Bu Hani sang wali kelas memasuki kelasnya. Bu Hani menyuruh si murid baru itu untuk memperkenalkan dirinya di depan kelas. Murid baru itu cukup pandai dalam berbahasa indonesia.
“Namaku Oh Jaehyun. Aku pindahan dari Korea Selatan. Aku pindah ke sini karena pekerjaan ayahku yang selalu berpindah-pindah Negara. Mohon bantuannya. Semoga kalian bisa berteman baik denganku. Salam kenal.” Kata murid baru itu seraya dengan setengah membungkukkan badannya seperti halnya yang biasa dilakukan orang-orang di korea jika memberi hormat atau salam.
Semuanya bersorak senang sambil bertepuk tangan untuk menyambut kedatangan Oh Jaehyun itu, terutama murid perempuan paling berantusias untuk melakukan hal itu termasuk dengan Mia.
            Mia terus-menerus menatap wajah Jaehyun. Melihat wajahnya yang tersenyum, tertawa, Mia sungguh tidak bisa berhenti menatap murid baru itu hingga dirinya sadar bahwa Jaehyun sedaritadi juga menatapnya, hingga kedua bola mata mereka saling bertemu dan menatap satu sama lain. Mia dengan cepat mengalihkan pandangannya itu. Mia merasa malu, namun juga merasa senang. Mia mencoba menengok ke arah tempat duduk Jaehyun. Mia tersontak kaget saat melihat dirinya ternyata sedang di perhatikan oleh murid baru itu. Jaehyun tersenyum padanya. Kini pipi Mia mulai memerah. Mia langsung berbalik dan kembali terfokus pada pelajaran yang sedang diterangkan oleh Bu Hana.
Mia menundukkan kepalanya, merasakan detak  jantungnya yang begitu cepat.
“Ah! Kenapa aku jadi deg-deg an gini sih?” Pekiknya dalam hati.
***
            Tanpa mengucap salam, Mia langsung mendobrak pintu rumah. Ia terlihat sangat lelah. Dibukanya sepatu sekolah yang ia pakai lalu melemparnya hingga sepatunya berserakaan ke mana-mana. Tanpa melepas kaos kakinya, Mia berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan badannya di atas kasurnya yang empuk itu. Dilihatnya handphone yang tergeletak di sampingnya, dengan sigap Mia mengambil handphone miliknya lalu memainkannya dengan serius, hingga Mia merasa bosan.
“Ahhhhh!!! Aku bosan!! Mama kemana sih?? Kok gak ada di rumah???!!” katanya mendengus kesal.

Mia menghampiri meja makan. Perutnya terasa sangat lapar. Dibukanya tudung saji, matanya terbelalak lebar saat melihat isi dari tudung saji itu adalah nihil! Mia mencoba membuka kulkas, ada satu kue tar brownies cokelat yang dilapisi krim vanilla dan ditambah dengan hiasan buah cherry mungil di atasnya, sangat lezat. Tanpa sungkan, Mia langsung mengambilnya dan melahapnya dengan rakus.
Kring… kring…
Telepon rumah Mia berdering. Ternyata mama-nya menelepon.
“Halo, Ma? Mama kemana sih? Kok tumben banget aku pulang sekolah gak ada di rumah.” Kata Mia.
“Maaf, Mia sayang… Mama ada arisan nih. Gak mungkin dong mama gak dateng.” Jawab sang Mama.
“Yah, ma! Kapan pulang? Aku lapar tau nihh!! Tapi itu tadi sih, ma.” Rengek Mia.
“Tunggu deh. Jangan-jangan kamu makan kue tar yang ada di dalam kulkas?” Tanya Mama, menebak-nebak.
Mia hanya menyengir.
“Ya ampun Mia! Kamu tau gak? Itu tuh kue bukan punya mama.” Kata Mama, suaranya sangat nyaring didengar hingga Mia menjauhkan telinganya dari gagang telepon.
“Yah mama! Kan tinggal beli lagi yang barunya, susah banget.” Jawab Mia menyepelekan.
“Kamu kira beli kue murah? Sudahlah! Mama pulang dulu! Tunggu di rumah!” Kata mama dan langsung menutup teleponnya.
Mia sama sekali tidak merasa bersalah. Dia hanya berpikir yang penting perutnya kini sudah terisi kembali.
            Setelah lama menunggu akhirnya Mama-nya datang. Mia dengan sigap membukakan pintu rumah untuk Mama-nya.
“Halo, Ma! Sudah pulang? Bawa makanan gak nih?” Tanya Mia sambil tertawa kecil.
“Kamu, ya! Makanan mulu! Mumpung sekarang masih jam tiga sore, Mama mau minta tolong deh sama kamu.” Pinta Mama.
“Tolong apa, Ma?” Tanya Mia kebingungan.
Terlihat Mama mengeluarkan uang dari dompet berwarna biru dengan hiasan kerlap kerlip membuatnya tampak cantik untuk di lihat, lalu memberikan uamg itu pada Mia. Uangnya cukup banyak untuk seorang anak seumuran Mia.
“Asik! Buat jajan nih mah?” Tanya Mia kegirangan.
“Ya enggaklah Mia. Kamu mau kan pergi ke toko kue?” Tanya Mama.
“Sendiri, Ma?” Tanya Mia lagi.
Mama menjawab dengan anggukan kepala.
“Oke oke, aku tau ini salah aku. Aku yang sudah menghabiskan semua kuenya, padahal kue itu bukan milik kita. Tapi kenapa harus aku yang membelinya?” Kata Mia mengeluh.
“Karna itu salahmu. Cepat kamu belikan, tempatnya juga tidak jauh kan? Ayo cepat!” suruh sang Mama.
“Iya iya, aku akan ke sana!” Jawab Mia.
***
Sampai di depan toko kue, dengan cepat Mia membuka pintu toko itu. terdengar suara lonceng saat Mia membuka pintunya. Mia mulai melihat-lihat dan memilih satu diantara semua jenis kue yang enak dan super lezat itu. Mia heran, ia berpikir bahwa semua kue yang terpajang sangat enak dan juga penampilannya sangat menarik. Dilihatnya terus semua kue-kue yang terpajang itu. Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengajaknya bicara.
“Kamu mau pilih kue yang mana?” tanya suara itu.
Mia merasa suara itu terasa sangat familiar baginya. Mia menengok ke samping dan mendapati sesosok laki-laki yang cukup lebih tinggi darinya. Jaehyun! Jaehyun tepat berada di sampingnya dan dia sedang tersenyum padanya sekarang! Mia merasa dia akan pingsan sekarang juga, namun itu mustahil. Mia memberanikan diri untuk membalas pembicaraannya walaupun dengan sedikit rasa gugup.
“Siapa? Aku?” Tanya Mia ragu.
Jaehyun mengangguk menandakan iya.
“Oh jadi benar aku. Emmm, aku tidak tau mau pilih kue yang mana. Semuanya terlihat lezat dimataku.” Jawab Mia.
“Benarkah?” Tanya Jaehyun.
“Tentu.”  Jawab Mia sambil menggaruk-garukan kepalanya yang tidak gatal itu.
Jaehyun tidak menjawab atau pun bertanya lagi padanya. Jaehyun terlihat sedang mimilih-milih kue yang terpajang. Tatapannya terhenti saat melihat ke arah kue tar brownis yang dilapisi dengan krim cokelat di setiap sisinya, dan juga hiasan buah-buahan kecil di atas kue itu.
“Bagaimana kalau yang ini?” Tanya Jaehyun sambil menunjukan jari telunjuknya ke arah kue brownis yang dilihatnya.
“Apa? Yang mana?” tanya Mia.
Mia mencoba mengikuti arah jari telunjuk Jaehyun. Setelah mendapati sosok kue yang lezat, Mia berpikir-pikir. Mia menundukkan kepalanya.
“Kurasa tidak. Harganya sangat mahal. Aku hanya membawa uang sedikit. Untuk membeli kue yang kamu pilih, benar-benar tidak cukup dengan uang yang kubawa.” Kata Mia menyesal.
Terlihat Jaehyun yang memesan kue tersebut kepada sang pelayan, dan dibayarnya kue itu. Membuat Mia begitu kebingungan.
“Tidak apa-apa. Aku yang bayarkan. Ini, untukmu.” Katanya sambil mengulurkan sekantong plastik berisikan kotak kue di dalamnya, pada Mia.
“Apa? Untukku?” Tanya Mia setengah berteriak, membuat para pengunjung di sana terus memperhatikannya.
Jaehyun mengangguk dan tersenyum padanya.
Mia hanya terdiam sambil menatap kantong keresek besar itu. Membuatnya benar-benar kebingungan saat itu.
“Cepat ambil saja!” Kata Jaehyun.
“Benar tidak apa-apa?” Tanya Mia lagi.
Jaehyun mengangguk.
“Sebelumnya terima kasih, Jaehyun. Besok, pasti akan ku gantikan uangmu! Aku janji!” Kata Mia bersungguh-sungguh. Dengan rasa sedikit malu Mia mengambil kue itu dari tangan Jaehyun.
Jaehyun terlihat tersenyum padanya.
“Tidak diganti juga tidak apa-apa.” Katanya.
“Tidak mungkin! Pasti besok akan ku gantikan, oke? Jangan menolak permintaanku!” Kata Mia bersikeras.
Jaehyun hanya tertawa sambil menatap tingkah lucu yang dilakukan Mia. Mia merasa malu, dan pipinya memerah lagi sekarang.
***
Tak disangaka ternyata jalan pulang mereka berdua searah. Alhasil membuat Jaehyun dan Mia pulang bersama. Benar-benar berhasil membuat Mia merasa panas dan gugup.
Saat di perjalanan, semua terasa hening. Tidak ada satu-pun diantara mereka yang memulai pembicaraan. Hingga akhirnya mereka berdua merasa bosan dan Jaehyun memutuskan untuk terlebih dulu mengajak Mia berbicara.
“Oh iya! Nama kamu Mia kan?” Tanya Jaehyun.
Mia mengangguk, “Iya..” jawabnya.
“Kenapa?” Tanya Mia.
“Tidak apa-apa.” Jawab Jaehyun singkat.
Mia hanya tersenyum.
            Setelah lama berjalan, mereka berdua tidak menyadari bahwa sedaritadi mereka terus saja bersama.
“Rumahmu??...” Kata Mia dan Jaehyun serempak tanpa disengaja.
“Tidak! Begini, rumahmu di mana?” Tanya Mia.
“Di dekat rumahmu.” Jawab Jaehyun santai.
Mia terkejut mendengar jawaban Jaehyun.
“Apa???” Tanya Mia lagi. Matanya melotot terlihat seperti ingin keluar, dan juga mulutnya yang menganga lebar membuat Jaehyun tertawa. Hingga akhirnya Mia menyadarinya dan bersikap seperti biasa.
“Jadi?” Kata Mia.
“Jadi apa?” Tanya Jaehyun.
Mia hanya terdiam.
“Oke. Jadi gini, kemarin aku baru saja menempati rumah yang ada di depan rumahmu. Ibuku bilang tetangga di depan rumah punya seorang anak seumuran denganku, dan sekolahnya sama dengan yang akan kumasuki. Aku bertanya pada Ibuku, siapa namanya? Dan ibuku menjawab sepertinya Mia. Dan ternyata benar, anak itu adalah Mia, dan sekarang dia ada di sampingku.” Jelasnya disambi dengan tawaan.
“Benarkah??” Tanya Mia tidak percaya.
“Hmm…benar! Dan juga tadi aku melihatmu keluar dari rumah saat kamu ingin ke toko kue. Jadi ku ikuti saja kamu.” Jelasnya lagi, dan kini tersenyum pada Mia.
Lama mengobrol, mereka berdua tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di depan rumah. Mereka berdua saling berpamitan dan masuk ke dalam rumah masing-masing.
“Aku pulang! Ini kuenya sudah ku belikan. Sebenarnya aku di belikan sih sama orang, jadi uang mama masih utuh deh.” Jelas Mia seraya memberi salam.
Mamanya yang terkejut melihat penjelaskan anaknya, mengahampirinya.
“Apa? Dibelikan?! Sama siapa?” Tanya Mama setengah berteriak.
“Aduh mama, biasa aja dong! Jadi gini aku dibelikan oleh teman sekolahku.” Jawab Mia.
“Berapa harga kuenya?” Tanya Mama lagi.
“Dua ratus ribu, ma.” Jawab Mia.
Tanpa lama, Mama mengambil dompetnya dan menambahkan uangnya pada Mia.
“Besok, berikan ini pada temanmu.” Kata Mama.
Mia mengangguk, lalu menaruh kuenya di atas meja makan.
***
            Keesokannya di sekolah, Mia menghampiri Jaehyun. Sesuai perkataannya, Mia akan menggantikan uang milik Jaehyun.
“Ini, terima kasih, dan maaf telah merepotkan.” Kata Mia sambil memberikan uang pada Jaehyun.
“Tidak perlu diganti, kok. Kuenya lezat, tadi pagi Mama kamu datang ke rumahku.” Kata Jaehyun.
Lagi-lagi Mia terkejut. Mia hanya diam terpaku di depan Jaehyun, sambil memelototkan matanya.
“Uangnya aku kembalikan, oke?” Kata Jaehyun berbisik pada Mia, dan mengembalikan uang itu kembali pada Mia.
“Tunggu! Tunggu! Kumohon ambil uang ini! aku tidak mau kena marah oleh mama nanti, kumohon!!” Pinta Mia memaksa.
Apa boleh buat, Jaehyun langsung mengambil uangnya. Dan lagi-lagi dia tersenyum pada Mia.
“Baiklah kuterima. Terimakasih.” Kata Jaehyun.
“Tidak! Seharusnya aku yang bilang terimakasih, oke? Terimakasih Jaehyun~” Kata Mia.
Jaehyun tertawa untuk kedua kalinya karna melihat tingkah lucu Mia.
***
Bel pulang berbunyi. Mia dan Jaehyun pulang bersama.
“Mia! Ayo cepat!” Teriak Jaehyun dari kejauhan.
Mia kebingungan, ia terus mencari-cari buku hariannya di semua laci meja di kelasnya.
“Aduh! Kemana sih tu buku!” Pekik Mia berbisik.
Jaehyun yang dari luar melihat tingkah Mia yang aneh, menghampirinya. Jaehyun kembali ke kelas dan menghampiri Mia.
“Kamu cari apa, Mi?” Tanya Jaehyun.
“Bukuku. Dia hilang! Padahal sepertinya tadi sudah kumasukkan ke dalam tas sebelum pulang.” Jelas Mia.
“Apa buku itu penting?” Tanya Jaehyun lagi.
Mia mengangguk sambil terus mencari-cari bukunya.
“Baiklah, akan kubantu untuk mencarinya.” Seru Jaehyun.
Mia mengabaikannya. Sepertinya Mia benar-benar sangat sedih jika bukunya hilang.
            Sambil membantu Mia mencari bukunya, Jaehyun terus memikirkan sesuatu. Buku yang dicari Mia? Apa mungkin buku yang kutemukan tadi itu miliknya?Buku berwarna merah marun dilapisi dengan efek glitter dan juga gambar hati pada sampul buku itu? Apa itu miliknya?, Semua pertanyaan itu mengelilingi benak Jaehyun.
“Bukumu warna apa?” tanya Jaehyun.
“Merah.” Jawab Mia singkat.
“Ah! Semua laci sudah kuperiksa! Dan buku itu tidak ada juga! Aahhh ayolah! Buku itu sangat penting bagiku! Aku tidak bisa menulis keseharianku didalam buku itu. dan juga, banyak kenangan di buku itu! Ahhh! Bagaimana ini???” Rengek Mia.

Jaehyun tersontak kaget saat mendengar semua yang dikatakan Mia. Kesehariannya, kenangannya, semua itu terpikirkan dalam benak Jaehyun. Jaehyun tidak ingin melihat Mia sedih. tapi ia juga tidak ingin mengembalikan buku itu pada Mia untuk beberapa waktu. Alasannya karena Jaehyun sangat ingin tahu semua tentang  Mia.
“Kita cari besok, oke?” Kata Jaehyun.
Mia mengangguk. Bagaimanapun juga bukunya tetap tidak akan ketemu walaupun sudah dicari ke manapun.
***
Jaehyun sesekali melirik buku milik Mia yang terletak di atas meja belajarnya. Jaehyun bingung harus apakan buku itu. Buka atau tidak? Pikirnya. Setelah lama memutuskan akhirnya Jaehyun mengambil buku itu dan mulai membukanya. Pada halaman pertama terlihat sebuah foto seorang bayi perempuan mengenakan pakaian yang serba berwarna pink, matanya sangat besar dan juga senyuman bayi itu sangat manis. Tidak henti-hentinya Jaehyun tertawa saat melihat foto itu. di bawah foto itu tertera tulisan yaitu, ‘Ini aku, saat umurku baru 1 tahun’. Jaehyun sangat senang saat mengetahui bayi itu adalah Mia. Dibacanya selembar demi selembar, sampai akhirnya mencapai ke halaman tengah. Terdapat secarik kertas yang dilipat kecil pada halaman itu. dibukanya lipatan-lipatan kertas itu, lalu dibacanya tulisan yang tertera pada kertas itu.
‘Ada murid baru di sekolah, dia cukup tampan, sepertinya dia baik. 131107-Kamis 07.00a.m’
‘Apa ini mimpi? Dia tersenyum padaku. 131107-Kamis 08.30a.m’
‘Hari ini, aku bertemu dengannya di toko kue. Dia mengajaku bicara! Aku tidak percaya. Tapi ini memang kenyataan. Dan dia membelikanku kue. Dan juga pulang bersama! 131109-Sabtu 16.30p.m’
‘Aku dan dia, sekarang menjadi lebih dekat. Mungkin. Rasanya sangat nyaman berada di sisinya. Aku merasakan detak jantungku berdebar sangat cepat saat harus berhadapan dengannya. Aku merasa mungkin aku menyukainya. 140415-Selasa 22.00p.m’
 ‘Aku menyukainya. Sangat menyukainya! 140515-Kamis 09.00a.m’
Semua tulisan di kertas itu sudah dibaca semua oleh Jaehyun. Jaehyun merasa senang, dan juga merasa sedih saat membaca semua isi hati Mia yang ada pada kertas itu. Jaehyun tidak tahu apa dia benar-benar menyukai Mia, atau tidak? Tapi setiap kali Jaehyun memikirkan itu, kata hatinya selalu berkata bahwa dia benar-benar suka pada Mia.



***
            Sudah hampir lima bulan Jaehyun berada di Indonesia, dan hari ini tepat hari terakhir masa pekerjaan ayah Jaehyun untuk bekerja di Indonesia. Jaehyun melihat Mia yang sedang duduk sendiri di bangku taman sekolah, yang hanya di temani oleh setumpuk buku-buku tebal. Jaehyun yang membawa buku harian milik Mia, tanpa ragu menghampirinya.
“Mia, bisa aku bicara?” Tanya Jaehyun.
Mia terkejut saat melihat tangan Jaehyun yang memegang buku hariannya yang selama ini telah dicari-cari olehnya. Jaehyun menyadari itu.
“Ku kembalikan buku-mu. Maaf aku tidak bilang bahwa buku itu ternyata terbawa olehku. Kamu tidak sengaja menjatuhkannya saat itu. sebenarnya aku ingin mengembalikannya padamu, tapi aku sangat penasaran dengan isi buku itu saat waktu itu kamu bilang bahwa banyak kenangan dan juga keseharianmu di dalam buku itu. Aku benar-benar minta maaf.” Jelas Jaehyun.
Mia tidak mempedulikan soal dari mana Jaehyun bisa menemukan buku itu. yang ia pikirkan adalah, Apa Jaehyun membaca lipatan kertas yang di dalam buku itu?.
            Belum sempat menanyakan soal kertas lipatan itu Jaehyun sudah terlebih dahulu membicarakannya.
“Soal kertas yang kamu selipkan di halaman tengah buku itu, aku membacanya. Dan apa semua itu adalah tentangku?” Tanyanya dengan suara yang lembut.
Mia merasakan detakan jantungnya yang mulai tidak terkontrol itu, ditambah dengan hembusan angin yang membelai rambutnya lembut, dan berhasil membuat bulu kuduknya berdiri. Mia hanya bisa menganggukkan kepalanya. Jaehyun yang melihatnya tersenyum.
“Aku senang jika memang benar itu aku.” Kata Jaehyun.
Mia hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.
“Aku tertarik padamu, apa boleh aku menyukaimu?” Kata Jaehyun lagi.
“Tentu saja boleh.” Jawab Mia, entah dengan perasaan senang atau sedih.
Tanpa disadari setetes air mengalir dari matanya, membuat pipinya basah.
“Kamu serius?” Tanya Jaehyun memastikan.
Dengan sekuat tenaga Mia menganggukkan kepalanya. Dengan cepat Mia menyeka air matanya.
“Ya!” jawabnya semangat.
***
“Mia! Cepat bangun! Hari ini tetangga depan rumah kita akan pindah loh! Apa kamu tidak ingin bertemu dengan Jaehyun? Cepat bangun!” Teriak mama.
Terdengar suara mama yang terus berteriak sambil mengetok pintu kamar Mia. Mia awalnya terganggu, tapi setelah mendengar nama Jaehyun, Mia dengan cepat bangun dari tidurnya dan membasuh mukanya dengan sedikit air, dengan cepat Mia keluar dari rumahnya.
            “Mama! Aku ke rumah tetangga dulu ya!” Teriak Mia, dengan cepat berlari menghampiri rumah Jaehyun.
Tanpa mengucap salam, Mia memasuki rumah Jaehyun. Terlihat ayah dan ibunya sedang mempersiapkan semua barang-barang yang akan dibawanya, mereka tersenyum pada Mia. Ibu Jaehyun dengan sigap memanggil Jaehyun untuk segera turun dari kamarnya. Mia sangat senang saat melihat sesosok remaja laki-laki korea itu berjalan menuruni tangga dan menghampirinya dengan penuh senyuman.
***
Sudah sekitar sebulan lamanya Jaehyun kembali ke Korea Selatan. Mia dan Jaehyun tidak pernah hilang kontak sekalipun. Mereka saling menghubungi dan menanyakan kabar lewat e-mail. Mereka berjanji untuk bertemu saat dirinya sudah dewasa nanti.
Mia terus memperhatikan foto dirinya dengan Jaehyun saat di bandara waktu mengantarnya dan keluarganya yang akan kembali ke Negara asal. Di sana mereka berdua membuat kenangan bersama, mereka masih sempat berfoto narsis untuk kenang-kenangan. Kamera yang dipakai adalah kamera berjenis polar, sehingga dapat mengahasilkan foto cetakannya langsung yang keluar dari kamera, sebanyak dua kali Mia dan Jaehyun mengambil foto. Dan hasil cetakannya masing-masing di berikan pada Mia dan Jaehyun, sehingga dapat mengingat kenangan manis yang telah dilewati oleh mereka berdua.
Dalam buku hariannya, Mia menuliskan sesuatu..
‘Aku yakin waktu masih akan terus berjalan, dan hari esok pasti akan datang! I’ll be waiting for you and your love~ 140521-Rabu 9.12p.m’
-THE END-


thanks for reading...

Selasa, 12 Agustus 2014

It's A Love Story (by ohdo)




          Jantungnya berdegup tak karuan, tubuhnya bergetar dan diam seperti patung, wajahnya pucat, keringat dingin mulai membasahi keningnya. Sikap Jin Ki memang seperti menghadapi sesosok makhluk halus, tapi kenyataannya Jin Ki tidak sedang berhadapan dengan sosok itu, melainkan dengan seorang gadis yang sekarang ini sedang mengajaknya bicara…
“Kakak, bisakah kau mendengarku? Kau tidak apa-apa,kak?” Tanya gadis itu sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jin Ki.
Dengan bodohnya Jin Ki tetap saja diam mematung dan melamun, sampai akhirnya gadis itu memutuskan untuk tidak jadi bertanya padanya, lalu pergi. Saat itu juga Jin Ki terlepas dari lamunannya.
            “Astaga Jin Ki! Kenapa dirimu ini bertingkah seperti orang bodoh dan kenapa kau biarkan gadis itu pergi? Arhhgg!” Gerutu Jin Ki pada dirinya sendiri.
Saat itu juga Jin Ki berencana untuk menanyakan siapa nama gadis yang baru saja ada di hadapannya itu, tetapi Jin Ki merasa tidak percaya diri untuk menanyakan langsung pada gadis itu, pfffttt… padahal dirinya adalah seorang kakak kelas.
Setelah berpikir cukup lama, Jin Ki memutuskan untuk berpura-pura jalan melewati tempat di mana gadis itu duduk. Saat tepat di samping tempat gadis itu, sesekali mata Jin Ki melirik pada almameter yang dikenakan oleh gadis itu, tepat di bagian atas kanan pada almameter itu terdapat tulisan yang berupa nama. Nama itu bertuliskan….Shin..Min-Rin…
Nama gadis itu adalah Shin Min Rin. Betapa senangnya Jin Ki saat mengetahui nama gadis yang diincarnya itu. Menurutnya, nama gadis itulah yang paling indah diantara semua gadis-gadis lain yang ada di dunia.
***
            Kejadian kemarin membuat Jin Ki bangun lebih pagi dari biasanya, dan saat berangkat sekolah wajahnya selalu dihiasi dengan penuh senyuman dan semangat.
Di sekolah…
“Nah! Seperti ini caranya… pastikan benangnya terlilit dengan rapi.” Jelas Jin Ki saat sedang mempraktekan pada adik kelasnya yaitu, tentang cara merajut.
Jin Ki berjalan mengitari kelas sambil melihat-lihat pekerjaan yang dilakukan oleh para murid baru atau adik kelasnya.
Tiba-tiba, Jin Ki merasa ada seseorang yang menepuk pelan pundaknya dari belakang. Ia menoleh ke belakang, lagi-lagi wajahnya memucat dan matanya terbelalak sangat lebar saat mendapati sesosok yang baru saja menepuk pundaknya.
Shin Min Rin….
            “Kau melihatku seperti melihat hantu…hmmm… apa wajahku begitu menakutkan??” Tanya Min Rin sambil meraba wajahnya.
“A-apa? Ah, tidak! Bukan seperti itu… aku hanya terkejut…” Kata Jin Ki gemetar.
Min Rin hanya terdiam.
“Ah, iya! Ada apa?” Tanya Jin Ki.
“Ini… bisakah kakak mengajariku merajut?” Tanya Min Rin sambil menunjukan setengah hasil rajutannya.
“M-me-mengajarimu??” Tanya Jin Ki terbata.
Min Rin mengangguk, “Tapi kalau kakak tidak mau, aku tidak apa-apa…” Jelasnya.
“Sudah pasti aku mau!” Seru Jin Ki bersikeras.
***
Terasa sangat menyenangkan berada di samping Min Rin, sambil mengajarinya merajut. Ini seperti… sepasang kekasih!
Semenit…
Duamenit…
Tigapuluh menit sudah berlalu…
“Kau memintaku untuk mengajarimu, tapi kenapa aku yang mengerjakan rajutan ini sendirian?” Kata Jin Ki mendengus kesal, ditambah lagi perkataannya tidak didengar oleh Min Rin.
“Merajutnya sudah selesai.” Seru Jin Ki sambil mengulurkan sebuah syal hasil rajutannya.
“Benarkah? Cepat sekali… Kakak benar-benar hebat! Terima kasih banyak…” Kata Min Rin senang.
“Padahal dia sengaja memintaku untuk mengajarinya hanya karna dia ingin aku yang menyelesaikan rajutannya…hhh! Licik sekali caranya…” Kata Jin Ki kesal berbisik pada dirinya sendiri.
“Apa kau mengatakan sesuatu?” Tanya Min Rin.
“Ah…Apa? Tidak… aku tidak mengatakan apa-apa.” Jawab Jin Ki.
Min Rin menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Jin Ki segera menghela nafas lega, karena perkataannya tidak didengar oleh Min Rin.
“Mmm… Untuk kakak…” Seru Min Rin, sambil mengulurkan syal rajutan itu pada Jin Ki.
Perasaan Jin Ki tercampur aduk… antara terkejut, tidak percaya, namun juga senang.
“Untuk apa kau memberikannya padaku?” Tanya Jin Ki disambi dengan tawanya.
“Ini hanya hadiah sebagai ucapan terima kasihku, karena kakak sudah membantuku menyelesaikan rajutannya..” Jelas Min Rin.
“Ah… ternyata benar yang kuduga!  Kau pasti sengaja memintaku untuk mengajarimu karna kau ingin aku yang melanjutkan rajutannya sampai selesai, begitu kan?” Tanya Jin Ki, dengan nada sedikit meledek.
“Tidak! Tidak seperti itu…” Jawab Min Rin bersikeras.
Jin Ki hanya terdiam masih tidak percaya.
“Aku akan sangat sedih jika kakak tidak menerimanya.” Seru Min Rin tertunduk.
Dengan sigap Jin Ki merebut syal rajutan itu dari tangan Min Rin.
“Wah! Lihat ini… syalnya benar-benar indah!” Kagum Jin Ki.
“Itu karna kakak yang merajutnya.” Kata Min Rin tersenyum.
“Kata siapa? Aku hanya melanjutkan setengah pekerjaanmu saja kan…” Kata Jin Ki meledek.
            Melihat Min Rin tertawa dan tersenyum padanya, Jin Ki benar-benar merasa bahwa dirinya sedang berada di alam mimpi. Dirinya tidak pernah menyangka kalau akan sedekat ini dengan gadis yang disukainya pada pandangan pertama. Hatinya… berbunga-bunga saat ini.
“Terima kasih… Akan kusimpan syal ini dengan baik.” Kata Jin Ki tersenyum.
***
            “Min Rin! Min Rin! Apa kau sudah dengar berita tentang Kak Jin Ki?” Tanya seorang teman Min Rin yang tergesa-gesa sambil memanggil namanya.
“Berita apa?” Kata Min Rin balik bertanya.
“Sudah kuduga pasti kau belum tahu. Jadi begini, seluruh anggota osis sedang membicarakan dirimu…errrr…dan Kak Jin Ki, katanya dia suka padamu…”  Jawab Teman Min Rin.
“Kau serius?” Tanya Jihyun salah satu teman Min Rin yang tiba-tiba saja ikut dalam pembicaraan.
Jihyun menatap Min Rin dengan wajah memelas.
“Min Rin… Kau tahu kan aku menyukai Kak Jin Ki? Jadi… kumohon jauhi dia! Kau tidak menyukainya bukan? Jadi… pasti tidak sulit untuk melakukannya, karena akhir-akhir ini kulihat kalian semakin dekat saja… Kau temanku kan? Tolonglah aku…” Rengek Jihyun memohon.
Min Rin sangat gelisah, hatinya bimbang. Dirinya tidak tahu harus bagaimana… Ia tidak ingin menyakiti perasaan sahabatnya, tapi… hatinya juga akan sakit jika ia menjauh dari Jin Ki.
***
            Jin Ki merasa Min Rin menjauh darinya, bahkan untuk menatapnya saja Min Rin terlihat tidak sudi. Sesekali Jin Ki melirik pada ponselnya yang tergeletak di meja belajar. Ia merasa, bahwa dirinya harus menelepon Min Rin untuk menanyakan keadaannya, kabarnya, dan juga… alasan kenapa dia menjauh darinya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Jin Ki memutuskan untuk menguhubungi Min Rin… Semenit… Dua menit menunggu, akhirnya Min Rin mengangkat teleponnya. Dia memang mengangkatnya, tapi dia tidak berkata apapun…
Suasananya hening…
“Min Rin… Kau disana?” Tanya Jin Ki yang memutuskan untuk memulai bicara.
Tidak ada jawaban dari Min Rin.
“Aku tahu kau ada di sana… jadi, kumohon jawab aku…” Kata Jin Ki memohon.
Tetap tidak ada jawaban.
“Apa kau sedang menjauh dariku?” Tanyanya.
Hanya ada suara gemerisik angin yang terdengar. Jin Ki menghela nafas untuk yang sekian kali.
“Kenapa kau mengangkat teleponku kalau kau tidak mengatakan sepatah katapun padaku? Apa kau benar-benar ingin menjauh dariku?” Lanjutnya.
Tiba-tiba telepon terputus. Jin Ki sama sekali tidak menyangka kalau Min Rin akan mematikan teleponnya begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.
***
Min Rin benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa padanya. Hatinya bimbang, benaknya dipenuhi dengan beribu-ribu pertanyaan, Apa yang harus dilakukannya? Pertanyaan itu selalu saja melintasi pikirannya. Sebenarnya dirinya juga tidak yakin kalau akan bisa sepenuhnya menjauh dari Jin Ki, dan… melupakan sesosok Jin Ki sangat sulit baginya.
Min Rin berjalan menuju balkon rumahnya, menghirup udara segar sambil memandangi kerlap-kerlip bintang di malam hari, mencoba untuk menjernihkan semua pikirannya dan mencari jalan untuk memecahkan semua masalah tentang percintaannya.
Keesokannya di sekolah…
Pagi-pagi buta sekali Min Rin sudah berada di sekolah, suasananya memang sangat sepi, satu orangpun belum ada yang datang selain dirinya. Entah apa yang dilakukannya berdiri di depan kelas Jin Ki, sambil sibuk berkutat dengan ponselnya.
***
            Jin Ki terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara yang sangat nyaring dari ponselnya. Dirinya bergegas siap-siap ke sekolah.
Di perjalanan ponselnya terus saja berdering tanpa henti, tak sanggup mendengar bunyi deringan itu dengan cepat Jin Ki merogoh sakunya lalu mengambil ponselnya.
Ekspresi wajahnya tiba-tiba saja berubah dengan tatapan mata O.O, saat melihat layar ponselnya.
Tepat di layar ponselnya tertulis… ‘3 Pesan  dari Shin Min Rin
Pesan 1:
Shin Min Rin :
Maaf atas kejadian semalam.
Pesan 2:
Shin Min Rin :
Soal itu… saat itu aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa padamu, dan… apakah Kita bisa bertemu? Sekarang aku berada tepat di depan kelasmu… Belum ada orang di sini… Apa kakak bisa datang lebih cepat?


Pesan 3:
Shin Min Rin :
Aku akan menunggumu ♥
“Apa ini? dia mengirimku pesan dengan menggunakan tanda hati… Baiklah! Kalau kau menunggu, aku akan segera ke sana.” Seru Jin Ki berbicara sendiri.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Jin Ki menyempatkan waktu untuk merapikan dasi dan almameternya terlebih dahulu, agar terlihat lebih rapi saat bertemu dengan Min Rin. Kemudian Jin Ki melanjutkan perjalanannya dengan berlari agar bisa cepat bertemu dengan Min Rin. Hatinya sangat senang saat melihat Min Rin mencantumkan simbol hati pada pesan yang dikirimkan untuknya. Di setiap perjalanan Jin Ki terus saja mengatakan isi pesan yang dikirim Min Rin untuknya, sambil berteriak “Aku akan menunggumu!” dengan berulang kali.
***
            Sekarang masih pukul 06:00 pagi, pantas saja sekolah masih terlihat sangat sepi dan hanya ada beberapa penjaga sekolah yang ada. Jin Ki berjalan menelusuri koridor, ia terlihat sedang tergesa-gesa. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Min Rin.
Tepat dari ujung koridor terlihat seorang perempuan sedang berdiri di depan kelasnya. Apakah mungkin itu Min Rin? Jin Ki mencoba menghampiri perempuan itu.
“Sss…sshii…n Min Rin? Kau Min Rin?” Tanya Jin Ki gugup.
Perempuan itu segera menoleh ke belakang.
“Oh.. ah! Kakak kau mengaggetkanku saja!” Seru Min Rin.
“Benarkah?” Tanya Jin Ki.
“Hmmm…” Jawab Min Rin menangguk. “Apa kakak marah padaku? Soal semalam… aku benar-benar minta maaf…” Lanjut Min Rin.
Jin Ki mengernyitkan dahinya, lalu tertawa terbahak.
“Kenapa kau tertawa? Ini tidak lucu! Aku benar-benar serius menanyakannya!” Gerutu Min Rin kesal.
“Aku tidak marah padamu. Kau yang marah padaku.” Jawab Jin Ki masih tertawa.
“Ck… Kau ini! Iya aku marah padamu! Lebih baik aku menjauh lagi saja darimu.” Decak Min Rin, wajahnya memerah karena marah.
“Benarkah? Coba saja. Aku tahu kau tidak akan bisa menjauhiku.” Ledek Jin Ki
“Apa buktinya?” Tanya Min Rin dengan nada menantang.

“Buktinya tiba-tiba saja tadi pagi kau mengirimku pesan lalu mengajakku untuk bertemu denganmu sekarang, setelah beberapa hari sebelumnya kau menjauh dariku, dan juga… Kau meminta maaf padaku hari ini akibat perbuatanmu yang menjengkelkan itu. Apakah itu sudah cukup jelas untuk di jadikan bukti?” Jelas Jin Ki panjang lebar.
“Oh iya! dan satu lagi… kau menyertakan tanda hati pada pesan yang kau kirim untukku. Ah itu menyenangkan bukan?” Lanjutnya, lagi-lagi meledek.
“Aku benar-benar marah padamu sekarang.” Seru Min Rin mendengus kesal.
“Benarkah? Aku tidak percaya.” Jawab Jin Ki.
Tiba-tiba saja Min Rin tersenyum, “Kakak benar-benar menyebalkan. Aku sungguh-sungguh benci padamu.” Katanya.
Jin Ki tertawa lepas, dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya saat melihat tingkah kekanak-kanakan seorang Shin Min Rin.
“Aku tahu kau bohong.” Kata Jin Ki seraya mengacak rambut Min Rin.
Min Rin pun ikut tertawa.
***
            Tanpa disengaja Jihyun yang baru saja datang di sekolah, tiba-tiba menemukan dua sosok yang tengah asik membicarakan sesuatu, tidak salah lagi Shin Min Rin dan Shim Jin Ki. Jihyun segera bersembunyi di balik tembok, lalu mengintip apa yang dilakukan mereka.
Entah sejak kapan Jihyun menjadi seorang penguntit yang selalu menyelidiki gerak gerik Shin Min Rin saat sedang bersama Jin Ki. Dirinya tidak habis pikir, bisa-bisanya Min Rin malah semakin dekat dengan Jin Ki.  
***
Di kelas…
“Aku tidak percaya sahabatku sendiri menusukku dari belakang.” Seru Jihyun yang tiba-tiba saja berjalan melewati Min Rin. Min Rin tahu maksud Jihyun seperti itu. Min Rin pun juga merasa sangat bersalah.
“Jihyun! Yang menusuk dari belakang itu maksdumu aku kan?” Tanya Min Rin yang menghampiri Jihyun.
“Secepat itukah kau menyadarinya?” Tanya Jihyun sinis.
“Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf…” Seru Min Rin.
“Aku tahu kau menyukai Kak Jin Ki. Memang benar, kita sudah lama berteman dan setiap orang yang aku sukai ternyata suka padaku juga, karna itu kau selalu saja memerintahku untuk menjauhinya, dan aku sudah banyak mengalah padamu… apakah bisa kali ini aku tidak mengalah padamu? aku benar-benar suka pada Kak Jin Ki. Aku pernah mencoba untuk menjauhi Kak Jin Ki, tapi aku merasakan sesak di dadaku. Hatiku sakit saat mencoba untuk menjauh darinya. Kali ini aku tidak ingin melawan perasaanku… Aku benar-benar minta maaf padamu… masih banyak cowok di dunia ini, tidak mungkin kalau tak ada satu orang pun yang menyukaimu. Aku tidak ingin persahabatan kita bubar hanya karna masalah ini… tolonglah mengerti Jihyun…” Jelas Min Rin panjang lebar, mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini selalu dipendam.
Jihyun tidak mengatakan apapun. Hanya terdengar suara isakan tangisnya. Sesaat sosoknya sudah hilang dari pandangan Min Rin. Min Rin benar-benar merasa sangat bersalah. Tapi bagaimanapun juga ini memanglah cara yang terbaik.
***
            Hari demi hari sudah berlalu. Kalender sudah menunjukkan pertengahan bulan Desember, dan hari libur sudah dimulai hari ini. Tapi, sampai saat ini juga Jihyun tidak mengatakan apa-apa tentang kejadian lalu. Min Rin benar-benar resah memikirkannya.
Min Rin bangkit dari ranjangnya, membuka kordeng jendelanya. Pemandangan pagi hari yang sangat indah, dengan kicauan burung-burung yang merdu dan juga sinar matahari yang masuk melewati jendelanya.
Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar.
“Min Rin! Kau sudah bangun? Ada Jihyun ingin bertemu denganmu.” Teriak Ibu Min Rin yang cukup jelas terdengar.
Matanya tiba-tiba saja terbelalak hebat saat mendengar nama Jihyun. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Iya, bu! Aku akan segera keluar…” Seru Min Rin.
***
            Di ruang tamu terlihat Jihyun yang sedang asyik menyantap segelas jus yang dibuatkan oleh ibu Min Rin.
“Jihyun…” panggil Min Rin.
“Ah… kau sudah bangun?” Tanya Jihyun, dan kali ini dia tersenyum lebar pada Min Rin.
Min Rin mengangguk sambil membalas senyumannya. Min Rin duduk di sebelah Jihyun.
Jihyun memulai pembicaraan, “Kurasa perkataanmu yang lalu itu benar.” Katanya.
Min Rin hanya terdiam. Menunggu kelanjutan dari pembicaraan Jihyun.
“Aku memang salah. Seharusnya aku tidak bersikap egois. Aku minta maaf padamu Min Rin…” Lanjutnya.
Min Rin tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu.
“Jadi?” Tanya Min Rin.
“Aku mau kita mulai dari awal lagi. Kejadian yang lalu anggap saja tidak pernah ada, kita akan lupakan semua yang sudah berlalu. Kita akan menjadi sahabat lagi bukan?” Seru Jihyun sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
Min Rin melilitkan kelingkingnya pada kelingking Jihyun. Menandakan perjanjian di antara mereka berdua.
Senyuman antara mereka berdua menghiasi suasana di ruang tamu.
***
            Hari ini tepat tanggal 31 Desember. Dimana semua orang di dunia ini bersiap-siap untuk mnyambut tahun baru, begitupula dengan Min Rin. Tapi Cuaca hari ini sama sekali tidak mendukung, sejak pagi tadi hingga sore seperti ini hujan belum juga reda. Udaranya juga sangat sangat dingin melebihi dari biasanya.
Sekarang sudah pukul 23:00 malam, hujan sudah lumayan reda walaupun masih gerimis sedikit. Min Rin dan keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton acara kesayangan di televisinya. Sedaritadi ponsel Min Rin terus saja berdering, merusak suasana.
“Apa sebaiknya teleponnya di angkat dulu saja?” Suruh Ayah Min Rin.
“Baik Ayah!” Min Rin langsung beranjak dari duduknya sambil membawa ponselnya.
Min Rin pergi ke balkon. Min Rin mulai melihat layar ponselnya.
Min Rin mengernyitkan dahinya, ‘Untuk apa Kak Jin Ki meneleponku malam-malam seperti ini?’ Tanyanya dalam hati.
Min Rin mengangkatnya.
“Ada apa?” Tanya Min Rin.
“Bisa kita bertemu di taman sekarang?” Seru Jin Ki.
“Malam-malam begini? Aku tidak mau!” Jawab Min Rin.
“Kalau begitu aku akan ke rumahmu sekarang.” Seru Jin Ki.
Belum sempat menjawab Jin Ki sudah menutup teleponnya. Min Rin khawatir kalau Jin Ki akan benar-benar datang ke rumahnya. Sesekali Min Rin menoleh ke belakang melihat kedua orang tuanya yang sedang asyik menatap layar televisi.
“Ibu, Ayah… Aku keluar sebentar ya?” Seru Min Rin pada kedua orang tuanya.
“Malam-malam seperti ini?” Tanya Ibunya.
Min Rin mengangguk.
“Maksudku keluar itu di halaman depan rumah…” Jelas Min Rin.
“Yasudah.” Jawab Ayah Min Rin.
Tepat saat Min Rin keluar dari rumahnya, di depan gerbang terlihat Jin Ki yang kelelahan seperti habis berlari.
“Kakak! Kau sudah sampai?!” Seru Min Rin segera membuka pintu gerbangnya dan membawa masuk Jin Ki.
“Aku kan tidak bilang iya saat itu, kenapa kakak benar-benar datang ke rumahku?” Tanya Min Rin ketus.
“Ada hal penting yang harus aku katakan padamu.” Seru Jin Ki terengah-engah.
“Kakak mau minum?” Tanya Min Rin lagi.
Jin Ki menggeleng. Tepat saat itu pukul 00:00 tengah malam, permainan kembang api mulai menghiasi langit-langit.
“Sudah waktunya aku mengatakan ini.” Kata Jin Ki.
“Apa?” Tanya Min Rin.
“Aku…” Jin Ki terlihat gugup.
“Wah! Kakak memakai syal pemberianku.” Seru Min Rin terkagum-kagum saat melihat syal yang mengalungi leher Jin Ki.
“Aku serius dengarkan aku..” Pinta Jin Ki sedikit berteriak.
Min Rin mengangguk, “baiklah kakak bisa lanjutkan.”
Nafas Jin Ki masih terengah.
“Aku… aku ingin kita berpacaran!” Kata Jin Ki bersikeras.
“Apa?” Tanya Min Rin.
“Aku ingin kau jadi pacarku..” Jelas Jin Ki.
“Kakak pasti bercanda.” Kata Min Rin tertawa.
“Hey! Kenapa kau tertawa? Aku tidak sedang bercanda.” Seru Jin Ki.
“Lalu?” Tanya Min Rin.
“Kau masih bertanya juga?” Keluh Jin Ki.
Min Rin mengangguk.
“Bagaimana jawabanmu?” Tanya Jin Ki.
“Bagaimana ya?” Min Rin balik bertanya.
“Ck! Kau ini…” Jin Ki mendecak kesal.
“Seharusnya kau beri aku waktu untuk meikirkan hal itu.” Kata Min Rin.
“Baiklah aku akan pergi…” Seru Jin Ki yang sudah siap melangkah untuk pergi.
“Jawabanku adalah iya…” Kata Min Rin. “Aku mau berpacaran dengan Kakak..” lanjutnya.
Jin Ki menghentikan langkahnya, menoleh ke arah  Min Rin lalu tersenyum lega dan senang. Wajah Min Rin berseri. Keduanya saling menatap satu sama lain sambil tersenyum. Pemandangan kembang api menambah suasana semakin menyenangkan.
***
“Ketulusan cinta dan kasih sayang tidak dapat dilihat ataupun didengar, tetapi hal itu hanya bisa dirasakan oleh hati…” –It’s A Love Story-
~THE END~


thanks for reading...