Mia baru saja sampai di
sekolah. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Suasana kelas terlihat
sangat ramai. Mia melangkah menuju tempat duduknya. Sambil menaruh tasnya ia
memperhatikan sebuah tempat yang dikerumuni oleh banyak murid perempuan.
Terlihat jelas seorang murid laki-laki berkulit putih susu menempati tempat
itu. Sepertinya baru pertama kali ia melihat murid itu, pikir Mia. Rasa
penasaran Mia muncul. Mia menghampiri tempat duduk murid laki-laki itu. Mia
berniat untuk melihat wajah murid itu, namun tidak berhasil. Murid-murid
perempuan yang mengerumuninya sangat banyak, bahkan murid dari kelas lain-pun
ada di dalam kerumunan itu.
“Ada apa sih? Siapa sih dia? Kayaknya aku baru
pertama kali liat dia.” Tanya Mia dalam hatinya.
Mia mencoba untuk melihat wajah murid laki-laki itu
dengan sedikit menjinjitkan kakinya. Matanya terbelalak saat mendapatkan
sesosok laki-laki yang dilihatnya. Kulitnya sangat putih seperti susu, matanya
sipit dan terdapat kantung pada matanya, warna bibirnya sangat merah alami,
hidungnya juga mancung. Sangat sempurna di mata Mia hingga ia tidak bisa
berhenti menatapnya.
Tiba-tiba
saja Nana menepuk pundak Mia. Mia
terlihat sangat terkejut.
“Kamu ngagetin aku, Na!” kata Mia sedikit menghela
nafasnya.
“Maaf, Mi. abisnya kamu bengong aja sih. Liatin anak
baru ya??” Tanya Nana sambil menyipitkan matanya.
“Jadi dia anak baru? Kok cakep sih? Kayak orang
korea tau! Dia blasteran ya, Na??” Tanya Mia penasaran.
“Dia blasteran korea amerika, Mi. Gak tau juga sih, aku
denger-denger juga ibunya asal korea dan bapaknya asal Indonesia loh, asli dari
Depok.” Jawab Nana.
“Terus amerikanya nurun dari siapa dong?” Tanya Mia
lagi.
“Mungkin neneknya. Mending kamu tanya sendiri deh
kalo mau tau banyak tentang dirinya.” Jelas Nana.
“Gak ah!” jawab Mia dan langsung berlalu dari sana.
“Bener nih???!!” Teriak Nana pada Mia yang jaraknya
sekarang sudah semakin jauh. Dari kejauhan terlihat Mia yang menjawab dengan anggukan
kepala.
***
Bel
masuk sudah berbunyi. Semua murid sudah harus berada di dalam kelasnya
masing-masing. Tepat di kelas Mia, terlihat Bu Hani sang wali kelas memasuki
kelasnya. Bu Hani menyuruh si murid baru itu untuk memperkenalkan dirinya di
depan kelas. Murid baru itu cukup pandai dalam berbahasa indonesia.
“Namaku Oh Jaehyun. Aku pindahan dari Korea Selatan.
Aku pindah ke sini karena pekerjaan ayahku yang selalu berpindah-pindah Negara.
Mohon bantuannya. Semoga kalian bisa berteman baik denganku. Salam kenal.” Kata
murid baru itu seraya dengan setengah membungkukkan badannya seperti halnya
yang biasa dilakukan orang-orang di korea jika memberi hormat atau salam.
Semuanya bersorak
senang sambil bertepuk tangan untuk menyambut kedatangan Oh Jaehyun itu,
terutama murid perempuan paling berantusias untuk melakukan hal itu termasuk
dengan Mia.
Mia
terus-menerus menatap wajah Jaehyun. Melihat wajahnya yang tersenyum, tertawa,
Mia sungguh tidak bisa berhenti menatap murid baru itu hingga dirinya sadar
bahwa Jaehyun sedaritadi juga menatapnya, hingga kedua bola mata mereka saling
bertemu dan menatap satu sama lain. Mia dengan cepat mengalihkan pandangannya
itu. Mia merasa malu, namun juga merasa senang. Mia mencoba menengok ke arah
tempat duduk Jaehyun. Mia tersontak kaget saat melihat dirinya ternyata sedang
di perhatikan oleh murid baru itu. Jaehyun tersenyum padanya. Kini pipi Mia
mulai memerah. Mia langsung berbalik dan kembali terfokus pada pelajaran yang
sedang diterangkan oleh Bu Hana.
Mia menundukkan kepalanya, merasakan detak jantungnya yang begitu cepat.
“Ah! Kenapa aku jadi deg-deg an gini sih?” Pekiknya
dalam hati.
***
Tanpa
mengucap salam, Mia langsung mendobrak pintu rumah. Ia terlihat sangat lelah.
Dibukanya sepatu sekolah yang ia pakai lalu melemparnya hingga sepatunya
berserakaan ke mana-mana. Tanpa melepas kaos kakinya, Mia berjalan menaiki
tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan badannya di atas kasurnya
yang empuk itu. Dilihatnya handphone yang tergeletak di sampingnya, dengan
sigap Mia mengambil handphone miliknya lalu memainkannya dengan serius, hingga
Mia merasa bosan.
“Ahhhhh!!! Aku bosan!! Mama kemana sih?? Kok gak ada
di rumah???!!” katanya mendengus kesal.
Mia menghampiri meja
makan. Perutnya terasa sangat lapar. Dibukanya tudung saji, matanya terbelalak
lebar saat melihat isi dari tudung saji itu adalah nihil! Mia mencoba membuka
kulkas, ada satu kue tar brownies cokelat yang dilapisi krim vanilla dan ditambah
dengan hiasan buah cherry mungil di atasnya, sangat lezat. Tanpa sungkan, Mia
langsung mengambilnya dan melahapnya dengan rakus.
Kring… kring…
Telepon rumah Mia berdering. Ternyata mama-nya
menelepon.
“Halo, Ma? Mama kemana sih? Kok tumben banget aku
pulang sekolah gak ada di rumah.” Kata Mia.
“Maaf, Mia sayang… Mama ada arisan nih. Gak mungkin
dong mama gak dateng.” Jawab sang Mama.
“Yah, ma! Kapan pulang? Aku lapar tau nihh!! Tapi
itu tadi sih, ma.” Rengek Mia.
“Tunggu deh. Jangan-jangan kamu makan kue tar yang
ada di dalam kulkas?” Tanya Mama, menebak-nebak.
Mia hanya menyengir.
“Ya ampun Mia! Kamu tau gak? Itu tuh kue bukan punya
mama.” Kata Mama, suaranya sangat nyaring didengar hingga Mia menjauhkan
telinganya dari gagang telepon.
“Yah mama! Kan tinggal beli lagi yang barunya, susah
banget.” Jawab Mia menyepelekan.
“Kamu kira beli kue murah? Sudahlah! Mama pulang
dulu! Tunggu di rumah!” Kata mama dan langsung menutup teleponnya.
Mia sama sekali tidak merasa bersalah. Dia hanya
berpikir yang penting perutnya kini sudah terisi kembali.
Setelah
lama menunggu akhirnya Mama-nya datang. Mia dengan sigap membukakan pintu rumah
untuk Mama-nya.
“Halo, Ma! Sudah pulang? Bawa makanan gak nih?”
Tanya Mia sambil tertawa kecil.
“Kamu, ya! Makanan mulu! Mumpung sekarang masih jam
tiga sore, Mama mau minta tolong deh sama kamu.” Pinta Mama.
“Tolong apa, Ma?” Tanya Mia kebingungan.
Terlihat Mama
mengeluarkan uang dari dompet berwarna biru dengan hiasan kerlap kerlip
membuatnya tampak cantik untuk di lihat, lalu memberikan uamg itu pada Mia.
Uangnya cukup banyak untuk seorang anak seumuran Mia.
“Asik! Buat jajan nih mah?” Tanya Mia kegirangan.
“Ya enggaklah Mia. Kamu mau kan pergi ke toko kue?”
Tanya Mama.
“Sendiri, Ma?” Tanya Mia lagi.
Mama menjawab dengan anggukan kepala.
“Oke oke, aku tau ini salah aku. Aku yang sudah
menghabiskan semua kuenya, padahal kue itu bukan milik kita. Tapi kenapa harus
aku yang membelinya?” Kata Mia mengeluh.
“Karna itu salahmu. Cepat kamu belikan, tempatnya
juga tidak jauh kan? Ayo cepat!” suruh sang Mama.
“Iya iya, aku akan ke sana!” Jawab Mia.
***
Sampai di depan toko kue, dengan cepat Mia membuka
pintu toko itu. terdengar suara lonceng saat Mia membuka pintunya. Mia mulai
melihat-lihat dan memilih satu diantara semua jenis kue yang enak dan super
lezat itu. Mia heran, ia berpikir bahwa semua kue yang terpajang sangat enak
dan juga penampilannya sangat menarik. Dilihatnya terus semua kue-kue yang
terpajang itu. Tiba-tiba terdengar suara seseorang mengajaknya bicara.
“Kamu mau pilih kue yang mana?” tanya suara itu.
Mia merasa suara itu terasa sangat familiar baginya.
Mia menengok ke samping dan mendapati sesosok laki-laki yang cukup lebih tinggi
darinya. Jaehyun! Jaehyun tepat berada di sampingnya dan dia sedang tersenyum
padanya sekarang! Mia merasa dia akan pingsan sekarang juga, namun itu
mustahil. Mia memberanikan diri untuk membalas pembicaraannya walaupun dengan
sedikit rasa gugup.
“Siapa? Aku?” Tanya Mia ragu.
Jaehyun mengangguk menandakan iya.
“Oh jadi benar aku. Emmm, aku tidak tau mau pilih
kue yang mana. Semuanya terlihat lezat dimataku.” Jawab Mia.
“Benarkah?” Tanya Jaehyun.
“Tentu.” Jawab Mia sambil menggaruk-garukan kepalanya
yang tidak gatal itu.
Jaehyun tidak menjawab atau pun bertanya lagi
padanya. Jaehyun terlihat sedang mimilih-milih kue yang terpajang. Tatapannya
terhenti saat melihat ke arah kue tar brownis yang dilapisi dengan krim cokelat
di setiap sisinya, dan juga hiasan buah-buahan kecil di atas kue itu.
“Bagaimana kalau yang ini?” Tanya Jaehyun sambil
menunjukan jari telunjuknya ke arah kue brownis yang dilihatnya.
“Apa? Yang mana?” tanya Mia.
Mia mencoba mengikuti arah jari telunjuk Jaehyun.
Setelah mendapati sosok kue yang lezat, Mia berpikir-pikir. Mia menundukkan
kepalanya.
“Kurasa tidak. Harganya sangat mahal. Aku hanya
membawa uang sedikit. Untuk membeli kue yang kamu pilih, benar-benar tidak
cukup dengan uang yang kubawa.” Kata Mia menyesal.
Terlihat Jaehyun yang memesan kue tersebut kepada
sang pelayan, dan dibayarnya kue itu. Membuat Mia begitu kebingungan.
“Tidak apa-apa. Aku yang bayarkan. Ini, untukmu.”
Katanya sambil mengulurkan sekantong plastik berisikan kotak kue di dalamnya,
pada Mia.
“Apa? Untukku?” Tanya Mia setengah berteriak,
membuat para pengunjung di sana terus memperhatikannya.
Jaehyun mengangguk dan tersenyum padanya.
Mia hanya terdiam sambil menatap kantong keresek besar itu. Membuatnya benar-benar kebingungan saat itu.
Jaehyun mengangguk dan tersenyum padanya.
Mia hanya terdiam sambil menatap kantong keresek besar itu. Membuatnya benar-benar kebingungan saat itu.
“Cepat ambil saja!” Kata Jaehyun.
“Benar tidak apa-apa?” Tanya Mia lagi.
Jaehyun mengangguk.
“Sebelumnya terima kasih, Jaehyun. Besok, pasti akan
ku gantikan uangmu! Aku janji!” Kata Mia bersungguh-sungguh. Dengan rasa
sedikit malu Mia mengambil kue itu dari tangan Jaehyun.
Jaehyun terlihat tersenyum padanya.
“Tidak diganti juga tidak apa-apa.” Katanya.
“Tidak mungkin! Pasti besok akan ku gantikan, oke?
Jangan menolak permintaanku!” Kata Mia bersikeras.
Jaehyun hanya tertawa sambil menatap tingkah lucu yang
dilakukan Mia. Mia merasa malu, dan pipinya memerah lagi sekarang.
***
Tak disangaka ternyata
jalan pulang mereka berdua searah. Alhasil membuat Jaehyun dan Mia pulang
bersama. Benar-benar berhasil membuat Mia merasa panas dan gugup.
Saat di perjalanan, semua terasa hening. Tidak ada
satu-pun diantara mereka yang memulai pembicaraan. Hingga akhirnya mereka
berdua merasa bosan dan Jaehyun memutuskan untuk terlebih dulu mengajak Mia
berbicara.
“Oh iya! Nama kamu Mia kan?” Tanya Jaehyun.
Mia mengangguk, “Iya..” jawabnya.
“Kenapa?” Tanya Mia.
“Tidak apa-apa.” Jawab Jaehyun singkat.
Mia hanya tersenyum.
Setelah
lama berjalan, mereka berdua tidak menyadari bahwa sedaritadi mereka terus saja
bersama.
“Rumahmu??...” Kata Mia dan Jaehyun serempak tanpa disengaja.
“Tidak! Begini, rumahmu di mana?” Tanya Mia.
“Di dekat rumahmu.” Jawab Jaehyun santai.
Mia terkejut mendengar jawaban Jaehyun.
“Apa???” Tanya Mia lagi. Matanya melotot terlihat
seperti ingin keluar, dan juga mulutnya yang menganga lebar membuat Jaehyun
tertawa. Hingga akhirnya Mia menyadarinya dan bersikap seperti biasa.
“Jadi?” Kata Mia.
“Jadi apa?” Tanya Jaehyun.
Mia hanya terdiam.
“Oke. Jadi gini, kemarin aku baru saja menempati rumah
yang ada di depan rumahmu. Ibuku bilang tetangga di depan rumah punya seorang
anak seumuran denganku, dan sekolahnya sama dengan yang akan kumasuki. Aku
bertanya pada Ibuku, siapa namanya? Dan ibuku menjawab sepertinya Mia. Dan
ternyata benar, anak itu adalah Mia, dan sekarang dia ada di sampingku.”
Jelasnya disambi dengan tawaan.
“Benarkah??” Tanya Mia tidak percaya.
“Hmm…benar! Dan juga tadi aku melihatmu keluar dari
rumah saat kamu ingin ke toko kue. Jadi ku ikuti saja kamu.” Jelasnya lagi, dan
kini tersenyum pada Mia.
Lama mengobrol, mereka berdua tidak menyadari bahwa
mereka sudah sampai di depan rumah. Mereka berdua saling berpamitan dan masuk
ke dalam rumah masing-masing.
“Aku pulang! Ini kuenya sudah ku belikan. Sebenarnya
aku di belikan sih sama orang, jadi uang mama masih utuh deh.” Jelas Mia seraya
memberi salam.
Mamanya yang terkejut melihat penjelaskan anaknya,
mengahampirinya.
“Apa? Dibelikan?! Sama siapa?” Tanya Mama setengah
berteriak.
“Aduh mama, biasa aja dong! Jadi gini aku dibelikan
oleh teman sekolahku.” Jawab Mia.
“Berapa harga kuenya?” Tanya Mama lagi.
“Dua ratus ribu, ma.” Jawab Mia.
Tanpa lama, Mama mengambil dompetnya dan menambahkan
uangnya pada Mia.
“Besok, berikan ini pada temanmu.” Kata Mama.
Mia mengangguk, lalu menaruh kuenya di atas meja
makan.
***
Keesokannya
di sekolah, Mia menghampiri Jaehyun. Sesuai perkataannya, Mia akan menggantikan
uang milik Jaehyun.
“Ini, terima kasih, dan maaf telah merepotkan.” Kata
Mia sambil memberikan uang pada Jaehyun.
“Tidak perlu diganti, kok. Kuenya lezat, tadi pagi
Mama kamu datang ke rumahku.” Kata Jaehyun.
Lagi-lagi Mia terkejut. Mia hanya diam terpaku di
depan Jaehyun, sambil memelototkan matanya.
“Uangnya aku kembalikan, oke?” Kata Jaehyun berbisik
pada Mia, dan mengembalikan uang itu kembali pada Mia.
“Tunggu! Tunggu! Kumohon ambil uang ini! aku tidak
mau kena marah oleh mama nanti, kumohon!!” Pinta Mia memaksa.
Apa boleh buat, Jaehyun langsung mengambil uangnya.
Dan lagi-lagi dia tersenyum pada Mia.
“Baiklah kuterima. Terimakasih.” Kata Jaehyun.
“Tidak! Seharusnya aku yang bilang terimakasih, oke?
Terimakasih Jaehyun~” Kata Mia.
Jaehyun tertawa untuk kedua kalinya karna melihat
tingkah lucu Mia.
***
Bel pulang berbunyi. Mia dan Jaehyun pulang bersama.
“Mia! Ayo cepat!” Teriak Jaehyun dari kejauhan.
Mia kebingungan, ia terus mencari-cari buku
hariannya di semua laci meja di kelasnya.
“Aduh! Kemana sih tu buku!” Pekik Mia berbisik.
Jaehyun yang dari luar melihat tingkah Mia yang
aneh, menghampirinya. Jaehyun kembali ke kelas dan menghampiri Mia.
“Kamu cari apa, Mi?” Tanya Jaehyun.
“Bukuku. Dia hilang! Padahal sepertinya tadi sudah
kumasukkan ke dalam tas sebelum pulang.” Jelas Mia.
“Apa buku itu penting?” Tanya Jaehyun lagi.
Mia mengangguk sambil terus mencari-cari bukunya.
“Baiklah, akan kubantu untuk mencarinya.” Seru
Jaehyun.
Mia mengabaikannya. Sepertinya Mia benar-benar
sangat sedih jika bukunya hilang.
Sambil
membantu Mia mencari bukunya, Jaehyun terus memikirkan sesuatu. Buku yang dicari Mia? Apa mungkin buku yang
kutemukan tadi itu miliknya?Buku berwarna merah marun dilapisi dengan efek
glitter dan juga gambar hati pada sampul buku itu? Apa itu miliknya?, Semua
pertanyaan itu mengelilingi benak Jaehyun.
“Bukumu warna apa?” tanya Jaehyun.
“Merah.” Jawab Mia singkat.
“Ah! Semua laci sudah kuperiksa! Dan buku itu tidak
ada juga! Aahhh ayolah! Buku itu sangat penting bagiku! Aku tidak bisa menulis
keseharianku didalam buku itu. dan juga, banyak kenangan di buku itu! Ahhh!
Bagaimana ini???” Rengek Mia.
Jaehyun tersontak kaget
saat mendengar semua yang dikatakan Mia. Kesehariannya, kenangannya, semua itu
terpikirkan dalam benak Jaehyun. Jaehyun tidak ingin melihat Mia sedih. tapi ia
juga tidak ingin mengembalikan buku itu pada Mia untuk beberapa waktu. Alasannya
karena Jaehyun sangat ingin tahu semua tentang Mia.
“Kita cari besok, oke?” Kata Jaehyun.
Mia mengangguk. Bagaimanapun juga bukunya tetap
tidak akan ketemu walaupun sudah dicari ke manapun.
***
Jaehyun sesekali
melirik buku milik Mia yang terletak di atas meja belajarnya. Jaehyun bingung
harus apakan buku itu. Buka atau tidak?
Pikirnya. Setelah lama memutuskan akhirnya Jaehyun mengambil buku itu dan mulai
membukanya. Pada halaman pertama terlihat sebuah foto seorang bayi perempuan
mengenakan pakaian yang serba berwarna pink, matanya sangat besar dan juga
senyuman bayi itu sangat manis. Tidak henti-hentinya Jaehyun tertawa saat
melihat foto itu. di bawah foto itu tertera tulisan yaitu, ‘Ini aku, saat
umurku baru 1 tahun’. Jaehyun sangat senang saat mengetahui bayi itu adalah
Mia. Dibacanya selembar demi selembar, sampai akhirnya mencapai ke halaman
tengah. Terdapat secarik kertas yang dilipat kecil pada halaman itu. dibukanya
lipatan-lipatan kertas itu, lalu dibacanya tulisan yang tertera pada kertas
itu.
‘Ada murid baru di sekolah, dia cukup tampan,
sepertinya dia baik. 131107-Kamis 07.00a.m’
‘Apa ini mimpi? Dia tersenyum padaku. 131107-Kamis
08.30a.m’
‘Hari ini, aku bertemu dengannya di toko kue. Dia
mengajaku bicara! Aku tidak percaya. Tapi ini memang kenyataan. Dan dia
membelikanku kue. Dan juga pulang bersama! 131109-Sabtu 16.30p.m’
‘Aku dan dia, sekarang menjadi lebih dekat. Mungkin.
Rasanya sangat nyaman berada di sisinya. Aku merasakan detak jantungku berdebar
sangat cepat saat harus berhadapan dengannya. Aku merasa mungkin aku
menyukainya. 140415-Selasa 22.00p.m’
‘Aku
menyukainya. Sangat menyukainya! 140515-Kamis 09.00a.m’
Semua tulisan di kertas
itu sudah dibaca semua oleh Jaehyun. Jaehyun merasa senang, dan juga merasa
sedih saat membaca semua isi hati Mia yang ada pada kertas itu. Jaehyun tidak
tahu apa dia benar-benar menyukai Mia, atau tidak? Tapi setiap kali Jaehyun
memikirkan itu, kata hatinya selalu berkata bahwa dia benar-benar suka pada
Mia.
***
Sudah
hampir lima bulan Jaehyun berada di Indonesia, dan hari ini tepat hari terakhir
masa pekerjaan ayah Jaehyun untuk bekerja di Indonesia. Jaehyun melihat Mia
yang sedang duduk sendiri di bangku taman sekolah, yang hanya di temani oleh
setumpuk buku-buku tebal. Jaehyun yang membawa buku harian milik Mia, tanpa
ragu menghampirinya.
“Mia, bisa aku bicara?” Tanya Jaehyun.
Mia terkejut saat melihat tangan Jaehyun yang
memegang buku hariannya yang selama ini telah dicari-cari olehnya. Jaehyun
menyadari itu.
“Ku kembalikan buku-mu. Maaf aku tidak bilang bahwa
buku itu ternyata terbawa olehku. Kamu tidak sengaja menjatuhkannya saat itu.
sebenarnya aku ingin mengembalikannya padamu, tapi aku sangat penasaran dengan
isi buku itu saat waktu itu kamu bilang bahwa banyak kenangan dan juga keseharianmu
di dalam buku itu. Aku benar-benar minta maaf.” Jelas Jaehyun.
Mia tidak mempedulikan soal dari mana Jaehyun bisa
menemukan buku itu. yang ia pikirkan adalah, Apa Jaehyun membaca lipatan kertas yang di dalam buku itu?.
Belum
sempat menanyakan soal kertas lipatan itu Jaehyun sudah terlebih dahulu
membicarakannya.
“Soal kertas yang kamu selipkan di halaman tengah
buku itu, aku membacanya. Dan apa semua itu adalah tentangku?” Tanyanya dengan
suara yang lembut.
Mia merasakan detakan jantungnya yang mulai tidak
terkontrol itu, ditambah dengan hembusan angin yang membelai rambutnya lembut,
dan berhasil membuat bulu kuduknya berdiri. Mia hanya bisa menganggukkan
kepalanya. Jaehyun yang melihatnya tersenyum.
“Aku senang jika memang benar itu aku.” Kata
Jaehyun.
Mia hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.
“Aku tertarik padamu, apa boleh aku menyukaimu?”
Kata Jaehyun lagi.
“Tentu saja boleh.” Jawab Mia, entah dengan perasaan
senang atau sedih.
Tanpa disadari setetes air mengalir dari matanya,
membuat pipinya basah.
“Kamu serius?” Tanya Jaehyun memastikan.
Dengan sekuat tenaga Mia menganggukkan kepalanya.
Dengan cepat Mia menyeka air matanya.
“Ya!” jawabnya semangat.
***
“Mia! Cepat bangun!
Hari ini tetangga depan rumah kita akan pindah loh! Apa kamu tidak ingin
bertemu dengan Jaehyun? Cepat bangun!” Teriak mama.
Terdengar suara mama yang terus berteriak sambil
mengetok pintu kamar Mia. Mia awalnya terganggu, tapi setelah mendengar nama
Jaehyun, Mia dengan cepat bangun dari tidurnya dan membasuh mukanya dengan
sedikit air, dengan cepat Mia keluar dari rumahnya.
“Mama!
Aku ke rumah tetangga dulu ya!” Teriak Mia, dengan cepat berlari menghampiri
rumah Jaehyun.
Tanpa mengucap salam, Mia memasuki rumah Jaehyun.
Terlihat ayah dan ibunya sedang mempersiapkan semua barang-barang yang akan
dibawanya, mereka tersenyum pada Mia. Ibu Jaehyun dengan sigap memanggil
Jaehyun untuk segera turun dari kamarnya. Mia sangat senang saat melihat
sesosok remaja laki-laki korea itu berjalan menuruni tangga dan menghampirinya
dengan penuh senyuman.
***
Sudah sekitar sebulan
lamanya Jaehyun kembali ke Korea Selatan. Mia dan Jaehyun tidak pernah hilang
kontak sekalipun. Mereka saling menghubungi dan menanyakan kabar lewat e-mail.
Mereka berjanji untuk bertemu saat dirinya sudah dewasa nanti.
Mia terus memperhatikan
foto dirinya dengan Jaehyun saat di bandara waktu mengantarnya dan keluarganya yang
akan kembali ke Negara asal. Di sana mereka berdua membuat kenangan bersama,
mereka masih sempat berfoto narsis untuk kenang-kenangan. Kamera yang dipakai
adalah kamera berjenis polar, sehingga dapat mengahasilkan foto cetakannya
langsung yang keluar dari kamera, sebanyak dua kali Mia dan Jaehyun mengambil
foto. Dan hasil cetakannya masing-masing di berikan pada Mia dan Jaehyun,
sehingga dapat mengingat kenangan manis yang telah dilewati oleh mereka berdua.
Dalam buku hariannya, Mia menuliskan sesuatu..
‘Aku yakin waktu masih akan terus berjalan, dan hari
esok pasti akan datang! I’ll be waiting for you and your love~ 140521-Rabu
9.12p.m’
-THE
END-
thanks for reading...

