Selasa, 12 Agustus 2014

It's A Love Story (by ohdo)




          Jantungnya berdegup tak karuan, tubuhnya bergetar dan diam seperti patung, wajahnya pucat, keringat dingin mulai membasahi keningnya. Sikap Jin Ki memang seperti menghadapi sesosok makhluk halus, tapi kenyataannya Jin Ki tidak sedang berhadapan dengan sosok itu, melainkan dengan seorang gadis yang sekarang ini sedang mengajaknya bicara…
“Kakak, bisakah kau mendengarku? Kau tidak apa-apa,kak?” Tanya gadis itu sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jin Ki.
Dengan bodohnya Jin Ki tetap saja diam mematung dan melamun, sampai akhirnya gadis itu memutuskan untuk tidak jadi bertanya padanya, lalu pergi. Saat itu juga Jin Ki terlepas dari lamunannya.
            “Astaga Jin Ki! Kenapa dirimu ini bertingkah seperti orang bodoh dan kenapa kau biarkan gadis itu pergi? Arhhgg!” Gerutu Jin Ki pada dirinya sendiri.
Saat itu juga Jin Ki berencana untuk menanyakan siapa nama gadis yang baru saja ada di hadapannya itu, tetapi Jin Ki merasa tidak percaya diri untuk menanyakan langsung pada gadis itu, pfffttt… padahal dirinya adalah seorang kakak kelas.
Setelah berpikir cukup lama, Jin Ki memutuskan untuk berpura-pura jalan melewati tempat di mana gadis itu duduk. Saat tepat di samping tempat gadis itu, sesekali mata Jin Ki melirik pada almameter yang dikenakan oleh gadis itu, tepat di bagian atas kanan pada almameter itu terdapat tulisan yang berupa nama. Nama itu bertuliskan….Shin..Min-Rin…
Nama gadis itu adalah Shin Min Rin. Betapa senangnya Jin Ki saat mengetahui nama gadis yang diincarnya itu. Menurutnya, nama gadis itulah yang paling indah diantara semua gadis-gadis lain yang ada di dunia.
***
            Kejadian kemarin membuat Jin Ki bangun lebih pagi dari biasanya, dan saat berangkat sekolah wajahnya selalu dihiasi dengan penuh senyuman dan semangat.
Di sekolah…
“Nah! Seperti ini caranya… pastikan benangnya terlilit dengan rapi.” Jelas Jin Ki saat sedang mempraktekan pada adik kelasnya yaitu, tentang cara merajut.
Jin Ki berjalan mengitari kelas sambil melihat-lihat pekerjaan yang dilakukan oleh para murid baru atau adik kelasnya.
Tiba-tiba, Jin Ki merasa ada seseorang yang menepuk pelan pundaknya dari belakang. Ia menoleh ke belakang, lagi-lagi wajahnya memucat dan matanya terbelalak sangat lebar saat mendapati sesosok yang baru saja menepuk pundaknya.
Shin Min Rin….
            “Kau melihatku seperti melihat hantu…hmmm… apa wajahku begitu menakutkan??” Tanya Min Rin sambil meraba wajahnya.
“A-apa? Ah, tidak! Bukan seperti itu… aku hanya terkejut…” Kata Jin Ki gemetar.
Min Rin hanya terdiam.
“Ah, iya! Ada apa?” Tanya Jin Ki.
“Ini… bisakah kakak mengajariku merajut?” Tanya Min Rin sambil menunjukan setengah hasil rajutannya.
“M-me-mengajarimu??” Tanya Jin Ki terbata.
Min Rin mengangguk, “Tapi kalau kakak tidak mau, aku tidak apa-apa…” Jelasnya.
“Sudah pasti aku mau!” Seru Jin Ki bersikeras.
***
Terasa sangat menyenangkan berada di samping Min Rin, sambil mengajarinya merajut. Ini seperti… sepasang kekasih!
Semenit…
Duamenit…
Tigapuluh menit sudah berlalu…
“Kau memintaku untuk mengajarimu, tapi kenapa aku yang mengerjakan rajutan ini sendirian?” Kata Jin Ki mendengus kesal, ditambah lagi perkataannya tidak didengar oleh Min Rin.
“Merajutnya sudah selesai.” Seru Jin Ki sambil mengulurkan sebuah syal hasil rajutannya.
“Benarkah? Cepat sekali… Kakak benar-benar hebat! Terima kasih banyak…” Kata Min Rin senang.
“Padahal dia sengaja memintaku untuk mengajarinya hanya karna dia ingin aku yang menyelesaikan rajutannya…hhh! Licik sekali caranya…” Kata Jin Ki kesal berbisik pada dirinya sendiri.
“Apa kau mengatakan sesuatu?” Tanya Min Rin.
“Ah…Apa? Tidak… aku tidak mengatakan apa-apa.” Jawab Jin Ki.
Min Rin menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Jin Ki segera menghela nafas lega, karena perkataannya tidak didengar oleh Min Rin.
“Mmm… Untuk kakak…” Seru Min Rin, sambil mengulurkan syal rajutan itu pada Jin Ki.
Perasaan Jin Ki tercampur aduk… antara terkejut, tidak percaya, namun juga senang.
“Untuk apa kau memberikannya padaku?” Tanya Jin Ki disambi dengan tawanya.
“Ini hanya hadiah sebagai ucapan terima kasihku, karena kakak sudah membantuku menyelesaikan rajutannya..” Jelas Min Rin.
“Ah… ternyata benar yang kuduga!  Kau pasti sengaja memintaku untuk mengajarimu karna kau ingin aku yang melanjutkan rajutannya sampai selesai, begitu kan?” Tanya Jin Ki, dengan nada sedikit meledek.
“Tidak! Tidak seperti itu…” Jawab Min Rin bersikeras.
Jin Ki hanya terdiam masih tidak percaya.
“Aku akan sangat sedih jika kakak tidak menerimanya.” Seru Min Rin tertunduk.
Dengan sigap Jin Ki merebut syal rajutan itu dari tangan Min Rin.
“Wah! Lihat ini… syalnya benar-benar indah!” Kagum Jin Ki.
“Itu karna kakak yang merajutnya.” Kata Min Rin tersenyum.
“Kata siapa? Aku hanya melanjutkan setengah pekerjaanmu saja kan…” Kata Jin Ki meledek.
            Melihat Min Rin tertawa dan tersenyum padanya, Jin Ki benar-benar merasa bahwa dirinya sedang berada di alam mimpi. Dirinya tidak pernah menyangka kalau akan sedekat ini dengan gadis yang disukainya pada pandangan pertama. Hatinya… berbunga-bunga saat ini.
“Terima kasih… Akan kusimpan syal ini dengan baik.” Kata Jin Ki tersenyum.
***
            “Min Rin! Min Rin! Apa kau sudah dengar berita tentang Kak Jin Ki?” Tanya seorang teman Min Rin yang tergesa-gesa sambil memanggil namanya.
“Berita apa?” Kata Min Rin balik bertanya.
“Sudah kuduga pasti kau belum tahu. Jadi begini, seluruh anggota osis sedang membicarakan dirimu…errrr…dan Kak Jin Ki, katanya dia suka padamu…”  Jawab Teman Min Rin.
“Kau serius?” Tanya Jihyun salah satu teman Min Rin yang tiba-tiba saja ikut dalam pembicaraan.
Jihyun menatap Min Rin dengan wajah memelas.
“Min Rin… Kau tahu kan aku menyukai Kak Jin Ki? Jadi… kumohon jauhi dia! Kau tidak menyukainya bukan? Jadi… pasti tidak sulit untuk melakukannya, karena akhir-akhir ini kulihat kalian semakin dekat saja… Kau temanku kan? Tolonglah aku…” Rengek Jihyun memohon.
Min Rin sangat gelisah, hatinya bimbang. Dirinya tidak tahu harus bagaimana… Ia tidak ingin menyakiti perasaan sahabatnya, tapi… hatinya juga akan sakit jika ia menjauh dari Jin Ki.
***
            Jin Ki merasa Min Rin menjauh darinya, bahkan untuk menatapnya saja Min Rin terlihat tidak sudi. Sesekali Jin Ki melirik pada ponselnya yang tergeletak di meja belajar. Ia merasa, bahwa dirinya harus menelepon Min Rin untuk menanyakan keadaannya, kabarnya, dan juga… alasan kenapa dia menjauh darinya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Jin Ki memutuskan untuk menguhubungi Min Rin… Semenit… Dua menit menunggu, akhirnya Min Rin mengangkat teleponnya. Dia memang mengangkatnya, tapi dia tidak berkata apapun…
Suasananya hening…
“Min Rin… Kau disana?” Tanya Jin Ki yang memutuskan untuk memulai bicara.
Tidak ada jawaban dari Min Rin.
“Aku tahu kau ada di sana… jadi, kumohon jawab aku…” Kata Jin Ki memohon.
Tetap tidak ada jawaban.
“Apa kau sedang menjauh dariku?” Tanyanya.
Hanya ada suara gemerisik angin yang terdengar. Jin Ki menghela nafas untuk yang sekian kali.
“Kenapa kau mengangkat teleponku kalau kau tidak mengatakan sepatah katapun padaku? Apa kau benar-benar ingin menjauh dariku?” Lanjutnya.
Tiba-tiba telepon terputus. Jin Ki sama sekali tidak menyangka kalau Min Rin akan mematikan teleponnya begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.
***
Min Rin benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa padanya. Hatinya bimbang, benaknya dipenuhi dengan beribu-ribu pertanyaan, Apa yang harus dilakukannya? Pertanyaan itu selalu saja melintasi pikirannya. Sebenarnya dirinya juga tidak yakin kalau akan bisa sepenuhnya menjauh dari Jin Ki, dan… melupakan sesosok Jin Ki sangat sulit baginya.
Min Rin berjalan menuju balkon rumahnya, menghirup udara segar sambil memandangi kerlap-kerlip bintang di malam hari, mencoba untuk menjernihkan semua pikirannya dan mencari jalan untuk memecahkan semua masalah tentang percintaannya.
Keesokannya di sekolah…
Pagi-pagi buta sekali Min Rin sudah berada di sekolah, suasananya memang sangat sepi, satu orangpun belum ada yang datang selain dirinya. Entah apa yang dilakukannya berdiri di depan kelas Jin Ki, sambil sibuk berkutat dengan ponselnya.
***
            Jin Ki terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara yang sangat nyaring dari ponselnya. Dirinya bergegas siap-siap ke sekolah.
Di perjalanan ponselnya terus saja berdering tanpa henti, tak sanggup mendengar bunyi deringan itu dengan cepat Jin Ki merogoh sakunya lalu mengambil ponselnya.
Ekspresi wajahnya tiba-tiba saja berubah dengan tatapan mata O.O, saat melihat layar ponselnya.
Tepat di layar ponselnya tertulis… ‘3 Pesan  dari Shin Min Rin
Pesan 1:
Shin Min Rin :
Maaf atas kejadian semalam.
Pesan 2:
Shin Min Rin :
Soal itu… saat itu aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa padamu, dan… apakah Kita bisa bertemu? Sekarang aku berada tepat di depan kelasmu… Belum ada orang di sini… Apa kakak bisa datang lebih cepat?


Pesan 3:
Shin Min Rin :
Aku akan menunggumu ♥
“Apa ini? dia mengirimku pesan dengan menggunakan tanda hati… Baiklah! Kalau kau menunggu, aku akan segera ke sana.” Seru Jin Ki berbicara sendiri.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Jin Ki menyempatkan waktu untuk merapikan dasi dan almameternya terlebih dahulu, agar terlihat lebih rapi saat bertemu dengan Min Rin. Kemudian Jin Ki melanjutkan perjalanannya dengan berlari agar bisa cepat bertemu dengan Min Rin. Hatinya sangat senang saat melihat Min Rin mencantumkan simbol hati pada pesan yang dikirimkan untuknya. Di setiap perjalanan Jin Ki terus saja mengatakan isi pesan yang dikirim Min Rin untuknya, sambil berteriak “Aku akan menunggumu!” dengan berulang kali.
***
            Sekarang masih pukul 06:00 pagi, pantas saja sekolah masih terlihat sangat sepi dan hanya ada beberapa penjaga sekolah yang ada. Jin Ki berjalan menelusuri koridor, ia terlihat sedang tergesa-gesa. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Min Rin.
Tepat dari ujung koridor terlihat seorang perempuan sedang berdiri di depan kelasnya. Apakah mungkin itu Min Rin? Jin Ki mencoba menghampiri perempuan itu.
“Sss…sshii…n Min Rin? Kau Min Rin?” Tanya Jin Ki gugup.
Perempuan itu segera menoleh ke belakang.
“Oh.. ah! Kakak kau mengaggetkanku saja!” Seru Min Rin.
“Benarkah?” Tanya Jin Ki.
“Hmmm…” Jawab Min Rin menangguk. “Apa kakak marah padaku? Soal semalam… aku benar-benar minta maaf…” Lanjut Min Rin.
Jin Ki mengernyitkan dahinya, lalu tertawa terbahak.
“Kenapa kau tertawa? Ini tidak lucu! Aku benar-benar serius menanyakannya!” Gerutu Min Rin kesal.
“Aku tidak marah padamu. Kau yang marah padaku.” Jawab Jin Ki masih tertawa.
“Ck… Kau ini! Iya aku marah padamu! Lebih baik aku menjauh lagi saja darimu.” Decak Min Rin, wajahnya memerah karena marah.
“Benarkah? Coba saja. Aku tahu kau tidak akan bisa menjauhiku.” Ledek Jin Ki
“Apa buktinya?” Tanya Min Rin dengan nada menantang.

“Buktinya tiba-tiba saja tadi pagi kau mengirimku pesan lalu mengajakku untuk bertemu denganmu sekarang, setelah beberapa hari sebelumnya kau menjauh dariku, dan juga… Kau meminta maaf padaku hari ini akibat perbuatanmu yang menjengkelkan itu. Apakah itu sudah cukup jelas untuk di jadikan bukti?” Jelas Jin Ki panjang lebar.
“Oh iya! dan satu lagi… kau menyertakan tanda hati pada pesan yang kau kirim untukku. Ah itu menyenangkan bukan?” Lanjutnya, lagi-lagi meledek.
“Aku benar-benar marah padamu sekarang.” Seru Min Rin mendengus kesal.
“Benarkah? Aku tidak percaya.” Jawab Jin Ki.
Tiba-tiba saja Min Rin tersenyum, “Kakak benar-benar menyebalkan. Aku sungguh-sungguh benci padamu.” Katanya.
Jin Ki tertawa lepas, dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya saat melihat tingkah kekanak-kanakan seorang Shin Min Rin.
“Aku tahu kau bohong.” Kata Jin Ki seraya mengacak rambut Min Rin.
Min Rin pun ikut tertawa.
***
            Tanpa disengaja Jihyun yang baru saja datang di sekolah, tiba-tiba menemukan dua sosok yang tengah asik membicarakan sesuatu, tidak salah lagi Shin Min Rin dan Shim Jin Ki. Jihyun segera bersembunyi di balik tembok, lalu mengintip apa yang dilakukan mereka.
Entah sejak kapan Jihyun menjadi seorang penguntit yang selalu menyelidiki gerak gerik Shin Min Rin saat sedang bersama Jin Ki. Dirinya tidak habis pikir, bisa-bisanya Min Rin malah semakin dekat dengan Jin Ki.  
***
Di kelas…
“Aku tidak percaya sahabatku sendiri menusukku dari belakang.” Seru Jihyun yang tiba-tiba saja berjalan melewati Min Rin. Min Rin tahu maksud Jihyun seperti itu. Min Rin pun juga merasa sangat bersalah.
“Jihyun! Yang menusuk dari belakang itu maksdumu aku kan?” Tanya Min Rin yang menghampiri Jihyun.
“Secepat itukah kau menyadarinya?” Tanya Jihyun sinis.
“Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf…” Seru Min Rin.
“Aku tahu kau menyukai Kak Jin Ki. Memang benar, kita sudah lama berteman dan setiap orang yang aku sukai ternyata suka padaku juga, karna itu kau selalu saja memerintahku untuk menjauhinya, dan aku sudah banyak mengalah padamu… apakah bisa kali ini aku tidak mengalah padamu? aku benar-benar suka pada Kak Jin Ki. Aku pernah mencoba untuk menjauhi Kak Jin Ki, tapi aku merasakan sesak di dadaku. Hatiku sakit saat mencoba untuk menjauh darinya. Kali ini aku tidak ingin melawan perasaanku… Aku benar-benar minta maaf padamu… masih banyak cowok di dunia ini, tidak mungkin kalau tak ada satu orang pun yang menyukaimu. Aku tidak ingin persahabatan kita bubar hanya karna masalah ini… tolonglah mengerti Jihyun…” Jelas Min Rin panjang lebar, mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini selalu dipendam.
Jihyun tidak mengatakan apapun. Hanya terdengar suara isakan tangisnya. Sesaat sosoknya sudah hilang dari pandangan Min Rin. Min Rin benar-benar merasa sangat bersalah. Tapi bagaimanapun juga ini memanglah cara yang terbaik.
***
            Hari demi hari sudah berlalu. Kalender sudah menunjukkan pertengahan bulan Desember, dan hari libur sudah dimulai hari ini. Tapi, sampai saat ini juga Jihyun tidak mengatakan apa-apa tentang kejadian lalu. Min Rin benar-benar resah memikirkannya.
Min Rin bangkit dari ranjangnya, membuka kordeng jendelanya. Pemandangan pagi hari yang sangat indah, dengan kicauan burung-burung yang merdu dan juga sinar matahari yang masuk melewati jendelanya.
Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar.
“Min Rin! Kau sudah bangun? Ada Jihyun ingin bertemu denganmu.” Teriak Ibu Min Rin yang cukup jelas terdengar.
Matanya tiba-tiba saja terbelalak hebat saat mendengar nama Jihyun. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Iya, bu! Aku akan segera keluar…” Seru Min Rin.
***
            Di ruang tamu terlihat Jihyun yang sedang asyik menyantap segelas jus yang dibuatkan oleh ibu Min Rin.
“Jihyun…” panggil Min Rin.
“Ah… kau sudah bangun?” Tanya Jihyun, dan kali ini dia tersenyum lebar pada Min Rin.
Min Rin mengangguk sambil membalas senyumannya. Min Rin duduk di sebelah Jihyun.
Jihyun memulai pembicaraan, “Kurasa perkataanmu yang lalu itu benar.” Katanya.
Min Rin hanya terdiam. Menunggu kelanjutan dari pembicaraan Jihyun.
“Aku memang salah. Seharusnya aku tidak bersikap egois. Aku minta maaf padamu Min Rin…” Lanjutnya.
Min Rin tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu.
“Jadi?” Tanya Min Rin.
“Aku mau kita mulai dari awal lagi. Kejadian yang lalu anggap saja tidak pernah ada, kita akan lupakan semua yang sudah berlalu. Kita akan menjadi sahabat lagi bukan?” Seru Jihyun sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
Min Rin melilitkan kelingkingnya pada kelingking Jihyun. Menandakan perjanjian di antara mereka berdua.
Senyuman antara mereka berdua menghiasi suasana di ruang tamu.
***
            Hari ini tepat tanggal 31 Desember. Dimana semua orang di dunia ini bersiap-siap untuk mnyambut tahun baru, begitupula dengan Min Rin. Tapi Cuaca hari ini sama sekali tidak mendukung, sejak pagi tadi hingga sore seperti ini hujan belum juga reda. Udaranya juga sangat sangat dingin melebihi dari biasanya.
Sekarang sudah pukul 23:00 malam, hujan sudah lumayan reda walaupun masih gerimis sedikit. Min Rin dan keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton acara kesayangan di televisinya. Sedaritadi ponsel Min Rin terus saja berdering, merusak suasana.
“Apa sebaiknya teleponnya di angkat dulu saja?” Suruh Ayah Min Rin.
“Baik Ayah!” Min Rin langsung beranjak dari duduknya sambil membawa ponselnya.
Min Rin pergi ke balkon. Min Rin mulai melihat layar ponselnya.
Min Rin mengernyitkan dahinya, ‘Untuk apa Kak Jin Ki meneleponku malam-malam seperti ini?’ Tanyanya dalam hati.
Min Rin mengangkatnya.
“Ada apa?” Tanya Min Rin.
“Bisa kita bertemu di taman sekarang?” Seru Jin Ki.
“Malam-malam begini? Aku tidak mau!” Jawab Min Rin.
“Kalau begitu aku akan ke rumahmu sekarang.” Seru Jin Ki.
Belum sempat menjawab Jin Ki sudah menutup teleponnya. Min Rin khawatir kalau Jin Ki akan benar-benar datang ke rumahnya. Sesekali Min Rin menoleh ke belakang melihat kedua orang tuanya yang sedang asyik menatap layar televisi.
“Ibu, Ayah… Aku keluar sebentar ya?” Seru Min Rin pada kedua orang tuanya.
“Malam-malam seperti ini?” Tanya Ibunya.
Min Rin mengangguk.
“Maksudku keluar itu di halaman depan rumah…” Jelas Min Rin.
“Yasudah.” Jawab Ayah Min Rin.
Tepat saat Min Rin keluar dari rumahnya, di depan gerbang terlihat Jin Ki yang kelelahan seperti habis berlari.
“Kakak! Kau sudah sampai?!” Seru Min Rin segera membuka pintu gerbangnya dan membawa masuk Jin Ki.
“Aku kan tidak bilang iya saat itu, kenapa kakak benar-benar datang ke rumahku?” Tanya Min Rin ketus.
“Ada hal penting yang harus aku katakan padamu.” Seru Jin Ki terengah-engah.
“Kakak mau minum?” Tanya Min Rin lagi.
Jin Ki menggeleng. Tepat saat itu pukul 00:00 tengah malam, permainan kembang api mulai menghiasi langit-langit.
“Sudah waktunya aku mengatakan ini.” Kata Jin Ki.
“Apa?” Tanya Min Rin.
“Aku…” Jin Ki terlihat gugup.
“Wah! Kakak memakai syal pemberianku.” Seru Min Rin terkagum-kagum saat melihat syal yang mengalungi leher Jin Ki.
“Aku serius dengarkan aku..” Pinta Jin Ki sedikit berteriak.
Min Rin mengangguk, “baiklah kakak bisa lanjutkan.”
Nafas Jin Ki masih terengah.
“Aku… aku ingin kita berpacaran!” Kata Jin Ki bersikeras.
“Apa?” Tanya Min Rin.
“Aku ingin kau jadi pacarku..” Jelas Jin Ki.
“Kakak pasti bercanda.” Kata Min Rin tertawa.
“Hey! Kenapa kau tertawa? Aku tidak sedang bercanda.” Seru Jin Ki.
“Lalu?” Tanya Min Rin.
“Kau masih bertanya juga?” Keluh Jin Ki.
Min Rin mengangguk.
“Bagaimana jawabanmu?” Tanya Jin Ki.
“Bagaimana ya?” Min Rin balik bertanya.
“Ck! Kau ini…” Jin Ki mendecak kesal.
“Seharusnya kau beri aku waktu untuk meikirkan hal itu.” Kata Min Rin.
“Baiklah aku akan pergi…” Seru Jin Ki yang sudah siap melangkah untuk pergi.
“Jawabanku adalah iya…” Kata Min Rin. “Aku mau berpacaran dengan Kakak..” lanjutnya.
Jin Ki menghentikan langkahnya, menoleh ke arah  Min Rin lalu tersenyum lega dan senang. Wajah Min Rin berseri. Keduanya saling menatap satu sama lain sambil tersenyum. Pemandangan kembang api menambah suasana semakin menyenangkan.
***
“Ketulusan cinta dan kasih sayang tidak dapat dilihat ataupun didengar, tetapi hal itu hanya bisa dirasakan oleh hati…” –It’s A Love Story-
~THE END~


thanks for reading... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar