Jantungnya berdegup tak
karuan, tubuhnya bergetar dan diam seperti patung, wajahnya pucat, keringat
dingin mulai membasahi keningnya. Sikap Jin Ki memang seperti menghadapi
sesosok makhluk halus, tapi kenyataannya Jin Ki tidak sedang berhadapan dengan
sosok itu, melainkan dengan seorang gadis yang sekarang ini sedang mengajaknya
bicara…
“Kakak, bisakah kau
mendengarku? Kau tidak apa-apa,kak?” Tanya gadis itu sambil melambai-lambaikan
tangannya di depan wajah Jin Ki.
Dengan bodohnya Jin Ki
tetap saja diam mematung dan melamun, sampai akhirnya gadis itu memutuskan
untuk tidak jadi bertanya padanya, lalu pergi. Saat itu juga Jin Ki terlepas
dari lamunannya.
“Astaga Jin Ki! Kenapa dirimu ini bertingkah seperti
orang bodoh dan kenapa kau biarkan gadis itu pergi? Arhhgg!” Gerutu Jin Ki pada
dirinya sendiri.
Saat itu juga Jin Ki
berencana untuk menanyakan siapa nama gadis yang baru saja ada di hadapannya
itu, tetapi Jin Ki merasa tidak percaya diri untuk menanyakan langsung pada
gadis itu, pfffttt… padahal dirinya adalah seorang kakak kelas.
Setelah berpikir cukup
lama, Jin Ki memutuskan untuk berpura-pura jalan melewati tempat di mana gadis
itu duduk. Saat tepat di samping tempat gadis itu, sesekali mata Jin Ki melirik
pada almameter yang dikenakan oleh gadis itu, tepat di bagian atas kanan pada
almameter itu terdapat tulisan yang berupa nama. Nama itu bertuliskan….Shin..Min-Rin…
Nama gadis itu adalah
Shin Min Rin. Betapa senangnya Jin Ki saat mengetahui nama gadis yang
diincarnya itu. Menurutnya, nama gadis itulah yang paling indah diantara semua
gadis-gadis lain yang ada di dunia.
***
Kejadian
kemarin membuat Jin Ki bangun lebih pagi dari biasanya, dan saat berangkat
sekolah wajahnya selalu dihiasi dengan penuh senyuman dan semangat.
Di sekolah…
“Nah! Seperti ini caranya… pastikan benangnya terlilit
dengan rapi.” Jelas Jin Ki saat sedang mempraktekan pada adik kelasnya yaitu,
tentang cara merajut.
Jin Ki berjalan mengitari kelas sambil melihat-lihat
pekerjaan yang dilakukan oleh para murid baru atau adik kelasnya.
Tiba-tiba, Jin Ki merasa ada seseorang yang menepuk
pelan pundaknya dari belakang. Ia menoleh ke belakang, lagi-lagi wajahnya
memucat dan matanya terbelalak sangat lebar saat mendapati sesosok yang baru
saja menepuk pundaknya.
Shin
Min Rin….
“Kau
melihatku seperti melihat hantu…hmmm… apa wajahku begitu menakutkan??” Tanya
Min Rin sambil meraba wajahnya.
“A-apa? Ah, tidak! Bukan seperti itu… aku hanya
terkejut…” Kata Jin Ki gemetar.
Min Rin hanya terdiam.
“Ah, iya! Ada apa?” Tanya Jin Ki.
“Ini… bisakah kakak mengajariku merajut?” Tanya Min
Rin sambil menunjukan setengah hasil rajutannya.
“M-me-mengajarimu??” Tanya Jin Ki terbata.
Min Rin mengangguk, “Tapi kalau kakak tidak mau, aku
tidak apa-apa…” Jelasnya.
“Sudah pasti aku mau!” Seru Jin Ki bersikeras.
***
Terasa sangat
menyenangkan berada di samping Min Rin, sambil mengajarinya merajut. Ini
seperti… sepasang kekasih!
Semenit…
Duamenit…
Tigapuluh menit sudah berlalu…
“Kau memintaku untuk mengajarimu, tapi kenapa aku
yang mengerjakan rajutan ini sendirian?” Kata Jin Ki mendengus kesal, ditambah
lagi perkataannya tidak didengar oleh Min Rin.
“Merajutnya sudah selesai.” Seru Jin Ki sambil mengulurkan
sebuah syal hasil rajutannya.
“Benarkah? Cepat sekali… Kakak benar-benar hebat!
Terima kasih banyak…” Kata Min Rin senang.
“Padahal dia sengaja memintaku untuk mengajarinya
hanya karna dia ingin aku yang menyelesaikan rajutannya…hhh! Licik sekali
caranya…” Kata Jin Ki kesal berbisik pada dirinya sendiri.
“Apa kau mengatakan sesuatu?” Tanya Min Rin.
“Ah…Apa? Tidak… aku tidak mengatakan apa-apa.” Jawab
Jin Ki.
Min Rin menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Jin Ki segera menghela nafas lega, karena perkataannya
tidak didengar oleh Min Rin.
“Mmm… Untuk kakak…” Seru Min Rin, sambil mengulurkan
syal rajutan itu pada Jin Ki.
Perasaan Jin Ki tercampur aduk… antara terkejut,
tidak percaya, namun juga senang.
“Untuk apa kau memberikannya padaku?” Tanya Jin Ki
disambi dengan tawanya.
“Ini hanya hadiah sebagai ucapan terima kasihku,
karena kakak sudah membantuku menyelesaikan rajutannya..” Jelas Min Rin.
“Ah… ternyata benar yang kuduga! Kau pasti sengaja memintaku untuk mengajarimu
karna kau ingin aku yang melanjutkan rajutannya sampai selesai, begitu kan?”
Tanya Jin Ki, dengan nada sedikit meledek.
“Tidak! Tidak seperti itu…” Jawab Min Rin
bersikeras.
Jin Ki hanya terdiam masih tidak percaya.
“Aku akan sangat sedih jika kakak tidak
menerimanya.” Seru Min Rin tertunduk.
Dengan sigap Jin Ki merebut syal rajutan itu dari
tangan Min Rin.
“Wah! Lihat ini… syalnya benar-benar indah!” Kagum
Jin Ki.
“Itu karna kakak yang merajutnya.” Kata Min Rin
tersenyum.
“Kata siapa? Aku hanya melanjutkan setengah
pekerjaanmu saja kan…” Kata Jin Ki meledek.
Melihat
Min Rin tertawa dan tersenyum padanya, Jin Ki benar-benar merasa bahwa dirinya
sedang berada di alam mimpi. Dirinya tidak pernah menyangka kalau akan sedekat
ini dengan gadis yang disukainya pada pandangan pertama. Hatinya…
berbunga-bunga saat ini.
“Terima kasih… Akan kusimpan syal ini dengan baik.”
Kata Jin Ki tersenyum.
***
“Min
Rin! Min Rin! Apa kau sudah dengar berita tentang Kak Jin Ki?” Tanya seorang
teman Min Rin yang tergesa-gesa sambil memanggil namanya.
“Berita apa?” Kata Min Rin balik bertanya.
“Sudah kuduga pasti kau belum tahu. Jadi begini,
seluruh anggota osis sedang membicarakan dirimu…errrr…dan Kak Jin Ki, katanya dia
suka padamu…” Jawab Teman Min Rin.
“Kau serius?” Tanya Jihyun salah satu teman Min Rin
yang tiba-tiba saja ikut dalam pembicaraan.
Jihyun menatap Min Rin dengan wajah memelas.
“Min Rin… Kau tahu kan aku menyukai Kak Jin Ki?
Jadi… kumohon jauhi dia! Kau tidak menyukainya bukan? Jadi… pasti tidak sulit
untuk melakukannya, karena akhir-akhir ini kulihat kalian semakin dekat saja…
Kau temanku kan? Tolonglah aku…” Rengek Jihyun memohon.
Min Rin sangat gelisah, hatinya bimbang. Dirinya
tidak tahu harus bagaimana… Ia tidak ingin menyakiti perasaan sahabatnya, tapi…
hatinya juga akan sakit jika ia menjauh dari Jin Ki.
***
Jin
Ki merasa Min Rin menjauh darinya, bahkan untuk menatapnya saja Min Rin terlihat
tidak sudi. Sesekali Jin Ki melirik pada ponselnya yang tergeletak di meja
belajar. Ia merasa, bahwa dirinya harus menelepon Min Rin untuk menanyakan
keadaannya, kabarnya, dan juga… alasan kenapa dia menjauh darinya. Setelah
berpikir cukup lama, akhirnya Jin Ki memutuskan untuk menguhubungi Min Rin…
Semenit… Dua menit menunggu, akhirnya Min Rin mengangkat teleponnya. Dia memang
mengangkatnya, tapi dia tidak berkata apapun…
Suasananya hening…
“Min Rin… Kau disana?” Tanya Jin Ki yang memutuskan
untuk memulai bicara.
Tidak ada jawaban dari Min Rin.
“Aku tahu kau ada di sana… jadi, kumohon jawab aku…”
Kata Jin Ki memohon.
Tetap tidak ada jawaban.
“Apa kau sedang menjauh dariku?” Tanyanya.
Hanya ada suara gemerisik angin yang terdengar. Jin
Ki menghela nafas untuk yang sekian kali.
“Kenapa kau mengangkat teleponku kalau kau tidak
mengatakan sepatah katapun padaku? Apa kau benar-benar ingin menjauh dariku?”
Lanjutnya.
Tiba-tiba telepon terputus. Jin Ki sama sekali tidak
menyangka kalau Min Rin akan mematikan teleponnya begitu saja tanpa mengatakan
sepatah katapun.
***
Min Rin benar-benar
tidak tahu harus mengatakan apa padanya. Hatinya bimbang, benaknya dipenuhi
dengan beribu-ribu pertanyaan, Apa yang
harus dilakukannya? Pertanyaan itu selalu saja melintasi pikirannya.
Sebenarnya dirinya juga tidak yakin kalau akan bisa sepenuhnya menjauh dari Jin
Ki, dan… melupakan sesosok Jin Ki sangat sulit baginya.
Min Rin berjalan menuju balkon rumahnya, menghirup
udara segar sambil memandangi kerlap-kerlip bintang di malam hari, mencoba
untuk menjernihkan semua pikirannya dan mencari jalan untuk memecahkan semua masalah
tentang percintaannya.
Keesokannya di sekolah…
Pagi-pagi buta sekali Min Rin sudah berada di
sekolah, suasananya memang sangat sepi, satu orangpun belum ada yang datang
selain dirinya. Entah apa yang dilakukannya berdiri di depan kelas Jin Ki,
sambil sibuk berkutat dengan ponselnya.
***
Jin
Ki terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara yang sangat nyaring dari
ponselnya. Dirinya bergegas siap-siap ke sekolah.
Di perjalanan ponselnya terus saja berdering tanpa
henti, tak sanggup mendengar bunyi deringan itu dengan cepat Jin Ki merogoh
sakunya lalu mengambil ponselnya.
Ekspresi wajahnya tiba-tiba saja berubah dengan
tatapan mata O.O, saat melihat layar ponselnya.
Tepat di layar ponselnya tertulis… ‘3 Pesan
dari Shin Min Rin ‘
Pesan
1:
Shin
Min Rin :
Maaf
atas kejadian semalam.
Pesan
2:
Shin
Min Rin :
Soal
itu… saat itu aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa padamu, dan…
apakah Kita bisa bertemu? Sekarang aku berada tepat di depan kelasmu… Belum ada
orang di sini… Apa kakak bisa datang lebih cepat?
Pesan
3:
Shin
Min Rin :
Aku
akan menunggumu ♥
“Apa ini? dia mengirimku pesan dengan menggunakan
tanda hati… Baiklah! Kalau kau menunggu, aku akan segera ke sana.” Seru Jin Ki berbicara
sendiri.
Sebelum melanjutkan
perjalanan, Jin Ki menyempatkan waktu untuk merapikan dasi dan almameternya
terlebih dahulu, agar terlihat lebih rapi saat bertemu dengan Min Rin. Kemudian
Jin Ki melanjutkan perjalanannya dengan berlari agar bisa cepat bertemu dengan
Min Rin. Hatinya sangat senang saat melihat Min Rin mencantumkan simbol hati
pada pesan yang dikirimkan untuknya. Di setiap perjalanan Jin Ki terus saja
mengatakan isi pesan yang dikirim Min Rin untuknya, sambil berteriak “Aku akan
menunggumu!” dengan berulang kali.
***
Sekarang
masih pukul 06:00 pagi, pantas saja sekolah masih terlihat sangat sepi dan
hanya ada beberapa penjaga sekolah yang ada. Jin Ki berjalan menelusuri
koridor, ia terlihat sedang tergesa-gesa. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin
bertemu dengan Min Rin.
Tepat dari ujung
koridor terlihat seorang perempuan sedang berdiri di depan kelasnya. Apakah
mungkin itu Min Rin? Jin Ki mencoba menghampiri perempuan itu.
“Sss…sshii…n Min Rin? Kau Min Rin?” Tanya Jin Ki
gugup.
Perempuan itu segera menoleh ke belakang.
“Oh.. ah! Kakak kau mengaggetkanku saja!” Seru Min
Rin.
“Benarkah?” Tanya Jin Ki.
“Hmmm…” Jawab Min Rin menangguk. “Apa kakak marah
padaku? Soal semalam… aku benar-benar minta maaf…” Lanjut Min Rin.
Jin Ki mengernyitkan dahinya, lalu tertawa terbahak.
“Kenapa kau tertawa? Ini tidak lucu! Aku benar-benar
serius menanyakannya!” Gerutu Min Rin kesal.
“Aku tidak marah padamu. Kau yang marah padaku.”
Jawab Jin Ki masih tertawa.
“Ck… Kau ini! Iya aku marah padamu! Lebih baik aku
menjauh lagi saja darimu.” Decak Min Rin, wajahnya memerah karena marah.
“Benarkah? Coba saja. Aku tahu kau tidak akan bisa menjauhiku.”
Ledek Jin Ki
“Apa buktinya?” Tanya Min Rin dengan nada menantang.
“Buktinya tiba-tiba saja tadi pagi kau mengirimku
pesan lalu mengajakku untuk bertemu denganmu sekarang, setelah beberapa hari
sebelumnya kau menjauh dariku, dan juga… Kau meminta maaf padaku hari ini
akibat perbuatanmu yang menjengkelkan itu. Apakah itu sudah cukup jelas untuk
di jadikan bukti?” Jelas Jin Ki panjang lebar.
“Oh iya! dan satu lagi… kau menyertakan tanda hati
pada pesan yang kau kirim untukku. Ah itu menyenangkan bukan?” Lanjutnya,
lagi-lagi meledek.
“Aku benar-benar marah padamu sekarang.” Seru Min
Rin mendengus kesal.
“Benarkah? Aku tidak percaya.” Jawab Jin Ki.
Tiba-tiba saja Min Rin tersenyum, “Kakak benar-benar
menyebalkan. Aku sungguh-sungguh benci padamu.” Katanya.
Jin Ki tertawa lepas, dia benar-benar tidak bisa
menahan tawanya saat melihat tingkah kekanak-kanakan seorang Shin Min Rin.
“Aku tahu kau bohong.” Kata Jin Ki seraya mengacak
rambut Min Rin.
Min Rin pun ikut tertawa.
***
Tanpa
disengaja Jihyun yang baru saja datang di sekolah, tiba-tiba menemukan dua
sosok yang tengah asik membicarakan sesuatu, tidak salah lagi Shin Min Rin dan
Shim Jin Ki. Jihyun segera bersembunyi di balik tembok, lalu mengintip apa yang
dilakukan mereka.
Entah sejak kapan
Jihyun menjadi seorang penguntit yang selalu menyelidiki gerak gerik Shin Min
Rin saat sedang bersama Jin Ki. Dirinya tidak habis pikir, bisa-bisanya Min Rin
malah semakin dekat dengan Jin Ki.
***
Di kelas…
“Aku tidak percaya sahabatku sendiri menusukku dari
belakang.” Seru Jihyun yang tiba-tiba saja berjalan melewati Min Rin. Min Rin
tahu maksud Jihyun seperti itu. Min Rin pun juga merasa sangat bersalah.
“Jihyun! Yang menusuk dari belakang itu maksdumu aku
kan?” Tanya Min Rin yang menghampiri Jihyun.
“Secepat itukah kau menyadarinya?” Tanya Jihyun
sinis.
“Aku minta maaf. Benar-benar minta maaf…” Seru Min
Rin.
“Aku tahu kau menyukai Kak Jin Ki. Memang benar,
kita sudah lama berteman dan setiap orang yang aku sukai ternyata suka padaku
juga, karna itu kau selalu saja memerintahku untuk menjauhinya, dan aku sudah
banyak mengalah padamu… apakah bisa kali ini aku tidak mengalah padamu? aku
benar-benar suka pada Kak Jin Ki. Aku pernah mencoba untuk menjauhi Kak Jin Ki,
tapi aku merasakan sesak di dadaku. Hatiku sakit saat mencoba untuk menjauh
darinya. Kali ini aku tidak ingin melawan perasaanku… Aku benar-benar minta
maaf padamu… masih banyak cowok di dunia ini, tidak mungkin kalau tak ada satu
orang pun yang menyukaimu. Aku tidak ingin persahabatan kita bubar hanya karna
masalah ini… tolonglah mengerti Jihyun…” Jelas Min Rin panjang lebar,
mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini selalu dipendam.
Jihyun tidak mengatakan apapun. Hanya terdengar
suara isakan tangisnya. Sesaat sosoknya sudah hilang dari pandangan Min Rin.
Min Rin benar-benar merasa sangat bersalah. Tapi bagaimanapun juga ini
memanglah cara yang terbaik.
***
Hari
demi hari sudah berlalu. Kalender sudah menunjukkan pertengahan bulan Desember,
dan hari libur sudah dimulai hari ini. Tapi, sampai saat ini juga Jihyun tidak
mengatakan apa-apa tentang kejadian lalu. Min Rin benar-benar resah
memikirkannya.
Min Rin bangkit dari ranjangnya, membuka kordeng
jendelanya. Pemandangan pagi hari yang sangat indah, dengan kicauan
burung-burung yang merdu dan juga sinar matahari yang masuk melewati jendelanya.
Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarnya
dari luar.
“Min Rin! Kau sudah bangun? Ada Jihyun ingin bertemu
denganmu.” Teriak Ibu Min Rin yang cukup jelas terdengar.
Matanya tiba-tiba saja terbelalak hebat saat
mendengar nama Jihyun. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
“Iya, bu! Aku akan segera keluar…” Seru Min Rin.
***
Di
ruang tamu terlihat Jihyun yang sedang asyik menyantap segelas jus yang dibuatkan
oleh ibu Min Rin.
“Jihyun…” panggil Min Rin.
“Ah… kau sudah bangun?” Tanya Jihyun, dan kali ini
dia tersenyum lebar pada Min Rin.
Min Rin mengangguk sambil membalas senyumannya. Min
Rin duduk di sebelah Jihyun.
Jihyun memulai pembicaraan, “Kurasa perkataanmu yang
lalu itu benar.” Katanya.
Min Rin hanya terdiam. Menunggu kelanjutan dari
pembicaraan Jihyun.
“Aku memang salah. Seharusnya aku tidak bersikap
egois. Aku minta maaf padamu Min Rin…” Lanjutnya.
Min Rin tersenyum mendengar perkataan sahabatnya
itu.
“Jadi?” Tanya Min Rin.
“Aku mau kita mulai dari awal lagi. Kejadian yang
lalu anggap saja tidak pernah ada, kita akan lupakan semua yang sudah berlalu.
Kita akan menjadi sahabat lagi bukan?” Seru Jihyun sambil mengulurkan jari
kelingkingnya.
Min Rin melilitkan kelingkingnya pada kelingking
Jihyun. Menandakan perjanjian di antara mereka berdua.
Senyuman antara mereka berdua menghiasi suasana di
ruang tamu.
***
Hari
ini tepat tanggal 31 Desember. Dimana semua orang di dunia ini bersiap-siap untuk
mnyambut tahun baru, begitupula dengan Min Rin. Tapi Cuaca hari ini sama sekali
tidak mendukung, sejak pagi tadi hingga sore seperti ini hujan belum juga reda.
Udaranya juga sangat sangat dingin melebihi dari biasanya.
Sekarang sudah pukul 23:00
malam, hujan sudah lumayan reda walaupun masih gerimis sedikit. Min Rin dan
keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton acara kesayangan
di televisinya. Sedaritadi ponsel Min Rin terus saja berdering, merusak
suasana.
“Apa sebaiknya teleponnya di angkat dulu saja?”
Suruh Ayah Min Rin.
“Baik Ayah!” Min Rin langsung beranjak dari duduknya
sambil membawa ponselnya.
Min Rin pergi ke balkon. Min Rin mulai melihat layar
ponselnya.
Min Rin mengernyitkan dahinya, ‘Untuk apa Kak Jin Ki
meneleponku malam-malam seperti ini?’ Tanyanya dalam hati.
Min Rin mengangkatnya.
“Ada apa?” Tanya Min Rin.
“Bisa kita bertemu di taman sekarang?” Seru Jin Ki.
“Malam-malam begini? Aku tidak mau!” Jawab Min Rin.
“Kalau begitu aku akan ke rumahmu sekarang.” Seru Jin
Ki.
Belum sempat menjawab
Jin Ki sudah menutup teleponnya. Min Rin khawatir kalau Jin Ki akan benar-benar
datang ke rumahnya. Sesekali Min Rin menoleh ke belakang melihat kedua orang
tuanya yang sedang asyik menatap layar televisi.
“Ibu, Ayah… Aku keluar sebentar ya?” Seru Min Rin
pada kedua orang tuanya.
“Malam-malam seperti ini?” Tanya Ibunya.
Min Rin mengangguk.
“Maksudku keluar itu di halaman depan rumah…” Jelas
Min Rin.
“Yasudah.” Jawab Ayah Min Rin.
Tepat saat Min Rin keluar dari rumahnya, di depan
gerbang terlihat Jin Ki yang kelelahan seperti habis berlari.
“Kakak! Kau sudah sampai?!” Seru Min Rin segera
membuka pintu gerbangnya dan membawa masuk Jin Ki.
“Aku kan tidak bilang iya saat itu, kenapa kakak
benar-benar datang ke rumahku?” Tanya Min Rin ketus.
“Ada hal penting yang harus aku katakan padamu.”
Seru Jin Ki terengah-engah.
“Kakak mau minum?” Tanya Min Rin lagi.
Jin Ki menggeleng. Tepat saat itu pukul 00:00 tengah
malam, permainan kembang api mulai menghiasi langit-langit.
“Sudah waktunya aku mengatakan ini.” Kata Jin Ki.
“Apa?” Tanya Min Rin.
“Aku…” Jin Ki terlihat gugup.
“Wah! Kakak memakai syal pemberianku.” Seru Min Rin
terkagum-kagum saat melihat syal yang mengalungi leher Jin Ki.
“Aku serius dengarkan aku..” Pinta Jin Ki sedikit
berteriak.
Min Rin mengangguk, “baiklah kakak bisa lanjutkan.”
Nafas Jin Ki masih terengah.
“Aku… aku ingin kita berpacaran!” Kata Jin Ki
bersikeras.
“Apa?” Tanya Min Rin.
“Aku ingin kau jadi pacarku..” Jelas Jin Ki.
“Kakak pasti bercanda.” Kata Min Rin tertawa.
“Hey! Kenapa kau tertawa? Aku tidak sedang
bercanda.” Seru Jin Ki.
“Lalu?” Tanya Min Rin.
“Kau masih bertanya juga?” Keluh Jin Ki.
Min Rin mengangguk.
“Bagaimana jawabanmu?” Tanya Jin Ki.
“Bagaimana ya?” Min Rin balik bertanya.
“Ck! Kau ini…” Jin Ki mendecak kesal.
“Seharusnya kau beri aku waktu untuk meikirkan hal
itu.” Kata Min Rin.
“Baiklah aku akan pergi…” Seru Jin Ki yang sudah siap
melangkah untuk pergi.
“Jawabanku adalah iya…” Kata Min Rin. “Aku mau
berpacaran dengan Kakak..” lanjutnya.
Jin Ki menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Min Rin lalu tersenyum lega dan senang. Wajah
Min Rin berseri. Keduanya saling menatap satu sama lain sambil tersenyum.
Pemandangan kembang api menambah suasana semakin menyenangkan.
***
“Ketulusan cinta dan kasih sayang tidak dapat
dilihat ataupun didengar, tetapi hal itu hanya bisa dirasakan oleh hati…” –It’s
A Love Story-
~THE
END~
thanks for reading...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar